Crypto

Awas, Penipuan Kripto Mulai Sasar Pengguna Media Sosial!

Awas, Penipuan Kripto Mulai Sasar Pengguna Media Sosial!

Awas, Penipuan Kripto Mulai Sasar Pengguna Media Sosial!

Jika melihat dari laporan dari Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat atau US Federal Trade Commision (FTC) pada bulan Juni lalu. Dilaporkan bahwa jumlah penipuan kripto pada tahun ini meningkat hingga lima kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2020. Tercatat, diperkirakan telah ada sebanyak US$ 1 miliar kripto telah hilang dalam penipuan yang dilakukan oleh para scammers sepanjang tahun.

Bukan menjadi sebuah rahasia lagi, jika aktivitas online sejak pandemi Covid-19 menurut sejumlah penelitian menunjukkan lonjakan yang signifikan. Namun ada hal penting yang perlu dicatat, bahwa peningkatan aktivitas online ini juga berbanding lurus dengan peningkatan penipuan secara online. Bahkan industri kripto pun tak luput dari penipuan yang menyasar pengguna media sosial.

Mengutip dari Cointelegraph pada hari Selasa (9/8/2022), Kepala Produk dari Aurora Labs, Matt Henderson mengaku hampir mengalami nasih buruk. Dimana dirinya mengakui hampir saja terperangkap dalam penipuan melalui penipuan transaksi over-the-counter (OTC).

Baca Juga: Ratu Kripto Diburu, FBI Siap Beri Hadiah Miliaran

Henderson telah menjumpai seorang penipu yang dikenal sebagai Olai dengan modus penipuan. Yang pada dasarnya membuat korban percaya bahwa pembayaran telah diterima untuk transaksi kripto OTC, meskipun sebenarnya tidak. Aksi penipuan ini dimulai dengan interaksi melalui media sosial. Henderson menyebutkan bahwa Olai menghubunginya melalui aplikasi Telegram untuk menanyakan mengenai pembelian token AURORA dengan USD Coin (USDC). Setelah setuju untuk melakukan transaksi melalui Escrow, Henderson mulai mencurigai sesuatu.

Pada saat terjadi transaksi penipuan tersebut, Henderson memahami setelah kecurigaannya itu bahwa penipu telah mereplikasi profil Discord miliknya dan mengarahkan Braun untuk melepaskan saldo AURORA ke scammers. Setelah mengalami ini, Henderson pun mencoba untuk memberikan peringatan kepada siapa saja terkait dengan seluk-beluk skema penipuan kripto maupun si penipu sendiri.

Penipuan Kripto Juga Sempat Sasar Pengguna LinkedIn

Sebelumnya, LinkedIn telah mengakui adanya peningkatan penipuan di platform-nya, dan kali ini pelaku penipuan membujuk pengguna untuk melakukan investasi kripto. Fenomena ini dianggap sebagai ancaman signifikan oleh Sean Ragan, yang merupakan agen khusus FBI.

Dikutip dari Engadget pada hari Senin (20/6/2022), skema penipuan biasanya dimulai dengan pelaku yang berpura-pura menjadi seorang profesional dan menjangkau pengguna LinkedIn. Dan mereka akan berusaha untuk terlibat dalam obrolan ringan, menawarkan untuk membantu pengguna menghasilkan uang melalui investasi kripto.

Baca Juga: Regulator UE Ingatkan Investor Kripto Berisiko Kehilangan Semua Uang

Mulanya, para penipu akan memberi tahu calon korban untuk menuju ke platform investasi kripto resmi. Setelah mendapatkan kepercayaan selama beberapa bulan, pelaku memberitahu korban untuk memindahkan investasi ke situs yang dikendalikan oleh penipu. Setelah itu, uang korban akan dikuras dari rekening. Menurut para korban yang diwawancarai oleh CNBC, mereka mempercayai LinkedIn sebagai platform yang kredibilitas pada tawaran investasi.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan baru-baru ini, LinkedIn mendorong pengguna untuk melaporkan profil yang mencurigakan. Direktur kepercayaan, privasi, dan ekuitas LinkedIn, Oscar Rodriguez berpendapat mengidentifikasi apa yang palsu dan apa yang tidak palsu sangat sulit. LinkedIn juga mendesak pengguna untuk hanya terhubung dengan orang yang dikenal dan dipercayai dan berhati-hatilah terhadap orang asing yang meminta uang kepada Anda.

Bagaimana Cara Mengenali Kejahatan Ini?

Diketahui bahwa cyber crime atau penipuan online sudah termasuk tindak kriminal yang dapat dihukum berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Setiap negara sudah membuat dasar hukum dan cara melaporkan penipuan online untuk melindungi masyarakat. Penipuan online pastinya akan menggunakan cara-cara yang asing dan baru bagi para korbannya yang gagap teknologi. Dengan mempelajari metode-metode kejahatan siber, kemungkinan menjadi korban penipuan online dapat dihindari.

Pada umumnya, tujuan dari para pelaku penipuan online adalah data-data pribadi. Bisa berbentuk PIN, kode OTP, nomor kartu debit/kartu kredit, nomor CVV/CVC kartu kredit, expired date kartu, dll. Data-data ini menjadi incaran mereka, agar mereka dapat meretas atau mengambil alih akun pribadi ataupun akun finansial Anda.

Pelaku penipuan online kini memiliki banyak cara dan metode untuk melakukan penipuan. Seperti modus phishing, dimana pelaku memancing korban untuk memberikan data-data sensitif secara cuma-cuma. Phishing ini biasa dilakukan dengan berbagai media dan perantara, seperti e-mail, melalui SMS, hingga melalui telepon langsung.

Baca Juga: Waspada Social Engineering, Kejahatan Online yang Menguras Rekening!

Penipuan online bisa juga menggunakan metode akun palsu pada platform media sosial. Dimana pelaku memalsukan akun-akun resmi sebuah bank di Twitter, Instagram, dll. Dan tentu tujuan adalah untuk mendapatkan data-data rahasia milik korban yang digunakan untuk mengambil uang korban.

William Adhiwangsa
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Indodax Laporkan Dark Tracer Soal Hoaks Kebocoran Data

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Advertisement
To Top