Crypto

Bitcoin Terus Merosot, Prediksi Rekor Tertinggi Hanya Mitos?

Dalam waktu seminggu terakhir, harga mata uang kripto khususnya Bitcoin terus mengalami pelemahan. Data ini dapat dilihat dari Coinmarket.com, dimana dalam tujuh hari terakhir, mata uang kripto paling populer tersebut melemah sebesar 10,37 persen.

Jika merujuk data dari sumber yang sama, pada hari Rabu (17/11/2021) ini, harga Bitcoin bahkan berada pada level US$ 60.000 per BTC. Pada pukul 16.00 WIB, Bitcoin berada pada level US$ 59.482,78 per BTC atau melemah sebesar 2,84% dalam 24 jam terakhir.

Dikutip dari berbagai sumber, penyebab dari harga Bitcoin anjlok adalah terkait dengan kebijakan pemerintah China yang kian memperketat kegiatan penambangan aset kripto. Otoritas setempat menyebut penambangan kripto sangat berbahaya dan mengancam upaya negara tersebut untuk mengurangi emisi karbon.

Meng Wei selaku Juru Bicara Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), pada sebuah konferensi pers mengatakan terkait bahaya dari penambangan Bitocin tersebut. Ia mengatakan, bahwa penambangan Bitcoin membutuhkan energi yang sangat besar dan memproduksi emisi karbon.

NDRC yang merupakan badan perencanaan pembangunan China bakal meluncurkan kebijakan skala penuh untuk menindak aktivitas penambangan mata uang kripto, dengan fokus terutama pada kegiatan penambangan komersil serta peran perusahaan swasta pada industri tersebut.

Bitcoin Terus Merosot, Prediksi Rekor Tertinggi Hanya Mitos?

Bitcoin Terus Merosot, Prediksi Rekor Tertinggi Hanya Mitos?

Sementara itu, QCP Capital dalam pembaruan pasar, seperti dikutip CoinDesk menyebutkan, penandatanganan Undang-Undang Infrastruktur oleh Presiden AS Joe Biden pekan ini yang berisi persyaratan pelaporan pajak kripto yang kontroversial menjadi sentimen negatif buat Bitcoin. Juga adanya penurunan antusiasme setelah pembaruan Taproot akhir pekan lalu di Blockchain Bitcoin, peningkatan besar pertama dalam jaringan itu dalam empat tahun terakhir.

Sebelumnya, Bitcoin sebagai aset kripto terbesar di dunia, harganya diprediksi akan memanas pada akhir tahun ini, dan bisa kembali mencetak rekor tertinggi atau all time high (ATH). Bahkan hingga awal tahun depan bakal jadi momentum bullish bagi Bitcoin. Prediksi itu dikemukakan oleh Founder Traderindo.com yakni Wahyu Laksono.

Wahyu menjelaskan sebelumnya Bitcoin sempat tertekan setelah sempat menyentuh ATH pada bulan April 2021, karena isu China crackdown, tapi kemudian berhasil naik lagi setelah adanya dukungan Elon Musk di B Word Conference.

Mengutip dari Bisnis pada hari Jumat (29/10/2021), Wahyu menyampaikan, “Walau September tertekan oleh kecemasan global, juga terkait Evergrande, di mana banyak aset terkoreksi, Oktober ini naik lagi”.

Namun, Wahyu juga menambahkan bahwa masih banyak tantangan bagi Bitcoin untuk bisa menyentuh level US$ 100.000 karena hambatan regulasi di berbagai negara. Bank Sentral Eropa (BoE) misalnya, mengatakan bahwa Bitcoin bisa memicu kehancuran ekonomi jika tidak diatur ketat.

“Jelas masalah legitimasi dan regulasi adalah isu laten bagi kripto. Tapi tetap saja kripto tidak bisa dibendung selama ada teknologi, liberalisasi, dan globalisasi,” ucapnya.

Lita Alisyahbana
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kripto Haram Sebagai Alat Bayar, Ini Tanggapan Ma'aruf Amin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top