Finansial

Emas Kena Profit Taking Saat AS Sedang Memanas

Di saat gegap gempita menyambut dibukanya perekonomian kembali, investor justru tidak memperdulikan mengenai drama penuh tensi tentang geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan China, juga soal gelombang demonstrasi yang merebak di berbagai negara bagian AS.

Kerusuhan yang memanas di AS dipicu oleh akibat dari tewasnya George Floyd tidak menurunkan risk appetite investor. Di tengah kerusuhan dan ketegangan yang terjadi, harga emas justru malah terpeleset jatuh.

Walau jatuh, para analis melihat prospek logam mulia secara keseluruhan masih positif. Harga bullion telah naik lebih dari 18 persen setelah menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir mendekati US$ 1.450,98 pada bulan Maret yang lalu.

Pada hari Rabu (3/6/2020) ini di perdagangan pagi pukul 07.55 WIB waktu Asia, harga emas di pasar spot dibandrol dengan nilai US$ 1.723,65. Ini berarti bahwa pada pagi ini harga emas terkoreksi 0,24 persen. Padahal kemarin harga emas juga ambles sekitar 1 persen.

Mengenai kerusuhan yang melanda AS, pada hari Senin (1/6/2020) dalam pidatonya Trump mengatakan, “Saya memobilisasi semua sumber daya federal dan lokal, sipil dan militer, untuk melindungi hak-hak hukum orang Amerika yang taat”.

Emas Kena Profit Taking Saat AS Sedang Memanas

Emas Kena Profit Taking Saat AS Sedang Memanas

Seperti yang diketahui, kematian George Floyd telah memunculkan kembali isu rasisme dan reaksi para demonstran untuk turun ke jalan raya. Kegaduhan yang terjadi bahkan membuat Donald Trump sampai mengerahkan personel militer untuk mengamankan situasi.

Investor seolah mengabaikan kerusuhan yang masih berlangsung itu. Buktinya adalah Wall Street tetap melaju kencang dan ditutup dengan sangat baik pada dini hari tadi. Untuk tambahan informasi, Indeks Dow Jones memimpin penguatan sebesar 1,1 persen ke 25.742,63, sementara S&P 500 0,8 persen ke 3.080,82, dan Nasdaq 0,6 persen ke 9.608,37.

Pembukaan ekonomi menyonsong new normal adalah tema besar di pasar. Selera investor terhadap risiko memang berangsur pulih dan memburu aset-aset seperti saham. Harga emas yang sudah naik signifikan membuat investor tergoda untuk mengambil untung (profit taking).

Mengutip dari Reuters, David Meger -Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures- mengatakan, “Ada kelanjutan optimisme sehubungan dengan pembukaan kembali ekonomi, yang ditunjukkan dengan reli ekuitas yang sedang berlangsung. Di bawah premis itu, mudah untuk memahami emas menjadi rentan (koreksi)”.

Terpicunya deflationary effect akibat dari anjloknya harga minyak mentah global, dan kemungkinan ke depannya masih akan ada stimulus yang digelontorkan untuk menyelamatkan perekonomian. Hal tersebut masih membuat emas tetap digemari dan menjadi salah satu aset yang pilih oleh para investor.

Adalah wajar jika harga emas masih bertengger dari level tertingginya dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir di US$ 1.700/troy ons. Karena emas dianggap sebagai aset yang minim risiko (safe haven) ketika suhu ekonomi dalam ketidakpastian.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top