Finansial

IMF Sebut Dampak Corona Adalah Terburuk Setelah ‘Great Depression’

Dana moneter internasional (IMF) menyebut bahwa dunia membutuhkan respons yang berskala masif untuk pemulihan akibat dari dampak pandemi virus corona. Pada hari Kamis (9/4/2020) kemarin, Kristalina Georgieva -Ketua IMF- menyatakan, bahwa dampak yang ditimbulkan merupakan yang terburuk setelah Depresi Besar (The Great Depression) pada tahun 1929 – 1933 yang silam.

Kasus positif corona di 192 negara yang tercatat melebihi jumlah 1,5 juta dengan angka kematian hampir menembus 80 ribu jiwa, dan kondisi ini membuat berbagai kegiatan dunia telah lumpuh untuk meredam penyebaran wabah virus corona. IMF berprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global akan terjun ke level minus pada tahun 2020. Kristalina menyebutkan bahwa sebanyak 170 negara dari 180 negara yang menjadi anggota IMF mengalami penurunan pendapatan per kapita.

Lembaga moneter dunia itu juga menduga bahwa dunia baru akan pulih sebagian pada tahun depan dengan asumsi bahwa virus corona teratasi pada paruh kedua tahun 2020. Namun ketua IMF itu juga mengatakan, keadaan dapat memburuk dengan ketidakpastian yang tinggi dan durasi pandemi yang tidak menentu.

 IMF Sebut Dampak Corona Adalah Terburuk Setelah 'Great Depression'


IMF Sebut Dampak Corona Adalah Terburuk Setelah ‘Great Depression’

Pada bulan Januari kemarin, lembaga keuangan internasional itu memproyeksikan pertumbuhan dunia sebesar 3,3 persen tahun ini dan 3,4 persen di tahun depan. Tapi ramalan tersebut berubah karena wabah corona yang terjadi di saat ini. IMF akan merilis pandangannya mengenai ekonomi dunia pada Selasa depan dengan perkiraan suram kepada para anggotanya pada 2020 dan 2021.

Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah mengumumkan tentang perubahan fokus dan alokasi APBN 2020 untuk menangani wabah Covid-19. Jokowi menyiapkan stimulus ekonomi sebesar Rp 405,1 triliun untuk menekan dampak ekonomi di masyarakat.

Kebijakan-kebijakan itu bertumpu pada Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 yang ditandatangani Jokowi pada tanggal 31 Maret 2020 kemarin.

Dengan anggaran sebesar Rp 405,1 triliun, akan dibagi dan digunakan untuk program pemulihan ekonomi nasional senilai Rp 150 triliun. Bidang kesehatan sebesar Rp 75 triliun. Anggaran sebesar Rp 110 triliun digunakan untuk jaring pengaman sosial. Dan anggaran untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR senilai Rp 70,1 triliun.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top