Bisnis

Indonesia Dianggap Bukan Lagi Negara Berkembang, Apa Dampaknya?

Amerika Serikat (AS) melalui Kantor Perwakilan Perdagangan atau Office of the US Trade Representative (USTR) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tak memasukkkan lagi Indonesia di daftar negara berkembang, tapi merubahnya menjadi negara maju. Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia di perdangangan internasional?

Negara-negara yang berstatus sebagai negara berkembang mendapatkan keistimewaan bea masuk dan bantuan yang lain dalam kegiatan ekspor dan impor. Sedang negara yang berpredikat sebagai negara maju, ia tak lagi mendapatkan perlakuan istimewa itu. WTO sendiri telah merumuskan indikator meski definisinya tidak resmi tentang sebuah negara yang bisa masuk sebagai negara berkembang atau negara maju pada laman resmi mereka. Di dalam aturannya, penentuan sebagai negara berkembang atau maju ditentukan sendiri oleh negara bersangkutan.

Pengajuan diri dari sebuah negara untuk mendapatkan status sebagai negara berkembang tak selalu berjalan mulus dan disepakati oleh negara-negara anggota WTO. Anggota WTO lain dapat menentang keputusan negara yang mengklaim sebagai negara berkembang, dan menyatakan tidak terikat untuk memberikan keistimewaan perdagangan.

Indonesia yang memang berstatus sebagai negara berkembang, memang diuntungkan dari sisi perdagangan. Ini karena barang impornya yang masuk ke negara maju mendapatkan bea masuk yang lebih rendah. Dengan aturan yang seperti itu memang ditujukan untuk membantu negara-negara berkembang seperti Indonesia mengatasi kemiskinan. Dan sekarang Indonesia dikeluarkan dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat, kini dirubah statusnya menjadi negara maju.

Indonesia-Dianggap-Bukan-Lagi-Negara-Berkembang-Apa-Dampaknya?

Indonesia Dianggap Bukan Lagi Negara Berkembang, Apa Dampaknya?

Tak hanya Indonesia, Amerika juga mengeluarkan negara-negara lain dari daftar negara berkembang. Banyak diantaranya adalah negara anggota G20, contohnya adalah Afrika Selatan. Padahal dalam hitungan pendapatan nasional bruto per kapita, Afrika Selatan masih tergolong sebagai negara berkembang.

Amerika Serikat melalui USTR mengambil keputusan ini berdasar pada pertimbangan yang mengabaikan indikator seperti angka kematian bayi, angka buta huruf orang dewasa, dan harapan hidup saat lahir. Amerika Serikat menganggap bahwa Indonesia dan negara-negara G20 yang lainnya tak lagi memenuhi syarat untuk mendapatkan perlakuan istimewa sebagai negara berkembang.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan bahwa kebijakan AS ini akan berdampak pada fasilitas-fasilitas perdagangan negara berkembang. Itu artinya bahwa ekspor barang-barang Indonesia akan kena tarif tinggi daripada negara berkembang lainnya. Karena sejak 10 Februari 2020, Indonesia telah dikeluarkan oleh AS dari daftar Developing and Least-Developed Countries sehingga Special Differential Treatment (SDT) yang tersedia dalam WTO Agreement on Subside and Countervailing Measures tidak lagi berlaku bagi Indonesia.

Dengan kebijakan AS yang terbaru ini, perdangangan Indonesia diprediksi akan cenderung buntung, padahal selama ini Indonesia surplus dari AS. Pada Januari 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa perdagangan Indonesia dan AS bekisar 1,01 miliar dollar. Angka tersebut adalah kenaikan dibanding pada periode yang sama di tahun lalu yang hanya bekisar di 804 juta dollar AS. Pada data yang sama juga menyebutkan, bahwa AS menjadi negara terbesar kedua pangsa ekspor non-migas Indonesia sebesar 1.62 miliar dolar di bulan pertama 2020.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top