Forex

Bagaimana Pengaruh Konflik Iran‑Israel di Pasar Forex?

Bagaimana Pengaruh Konflik Iran‑Israel di Pasar Forex?

Bagaimana Pengaruh Konflik Iran‑Israel di Pasar Forex?

Ketegangan konflik Iran-Israel kembali memanas pada pertengahan Juni 2025, memicu kekhawatiran global dan mengguncang stabilitas berbagai pasar keuangan, termasuk pasar forex. Serangan balasan yang saling dilancarkan antara kedua negara tersebut bukan hanya menimbulkan dampak politik dan kemanusiaan, tetapi juga membawa dampak langsung terhadap pergerakan mata uang dunia, harga minyak, serta sikap investor terhadap risiko.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, para trader dituntut untuk lebih waspada dan responsif terhadap perubahan sentimen pasar yang cepat. Artikel ini akan mengulas secara menyeluruh bagaimana konflik Iran-Israel memengaruhi dinamika pasar forex. Serta strategi apa saja yang bisa diterapkan oleh trader untuk tetap bertahan dalam kondisi pasar yang penuh gejolak.

Baca Juga: Mengapa Volatilitas Forex Meningkat Saat Ada Rilis Berita?

Konflik Iran‑Israel: Kronologi & Data Terkini

Serangan udara Israel terhadap instalasi nuklir dan militer Iran dimulai sekitar 12 Juni 2025. Serta digandakan oleh respons rudal dan drone Iran pada 14–16 Juni 2025, menyerang Israel bahkan AS melalui pangkalan regional.

1. Harga minyak global naik tajam: +7 % pada 13 Juni, sempat menanjak hingga +11 % dalam sebulan terakhir.
2. Dollar AS menguat, Bitcoin turun ke kisaran US$103.000, sementara emas naik >1 %
3. Pasar saham dunia, termasuk futures Dow dan indeks Asia, terdampak negatif: futures turun 600 poin, saham Asia melemah >2 %
4. Perkembangan serius: ancaman penutupan Selat Hormuz—jalur ekspor minyak vital—mendorong harga Brent berpotensi menyentuh US$100‑150/barel.

Dampak Geopolitik pada Pasar Forex

1. Safe-Haven Currencies

Mata uang seperti USD, JPY, dan CHF menguat saat konflik meningkat—ditandai oleh “flight to safety” investor global.

2. Mata Uang Emerging Markets (EM)

Mata uang negara berkembang, termasuk IDR, melemah—investor mengalihkan modal ke safe-haven, mengakibatkan capital outflow sementara melalui pelemahan Rupiah mencapai 0,4–0,5 %

3. Volatilitas Harga Minyak & Mata Uang Energi

Kenaikan minyak memacu mata uang eksportir energi (CAD, NOK, RUB), tetapi melemahkan importir besar seperti CAD/JPY/INR.

Dampak Langsung Serangan terhadap Forex

1. Penguatan Dollar & Yen

1. Per 18 Juni 2025, USD stabil dalam putaran awal serangan tetapi tetap menguat modest terhadap JPY, EUR, CHF.
2. Data Reuters (16 Juni): dolar hanya naik ~0,25 %, lebih rendah dari pasar sebelumnya—menandakan kepercayaan safe-haven lainnya seperti emas dan yen.

2. Pelemahan Rupiah & EM

1. Rupiah melemah ~0,46 % terhadap USD, dibuka Rp16.250 → Rp16.324
2. Tekanan capital outflow meningkatkan volatilitas IDR dan EM, memaksa langkah BI seperti intervensi valas.

3. Harga Minyak & Mata Uang Terkait

1. Minyak Brent naik dari US$75 → US$82–90 → potensi >US$100 jika Hormuz ditutup.
2. CAD, NOK, RUB terdongkrak; IMF & BP notes memonitor IEA supply risk.

Baca Juga: Arti Berita-Berita Ekonomi Dalam Analisa Fundamental

Teknikal vs Fundamental: “Who’s in Charge?”

Konflik geopolitik besar menempatkan analisa fundamental sebagai penggerak utama forex: berita militer, perkembangan harga minyak, suku bunga, dan risk sentiment. Dalam kondisi seperti ini sinyal teknikal jadi kurang reliabel.

1. Trader disarankan aktif mengikuti berita real-time dan indikator ekonomi (data inflasi, keputusan suku bunga).
2. Sinyal teknikal seperti pola grafik sering tertimpa spike volatilitas—kesalahan umum adalah over-leverage.

Strategi Trading di Tengah Gejolak

1. Position Sizing konservatif – batas exposure kecil terhadap akun.
2. Volatility Stop-loss – gunakan ATR-based stop-loss lebih lebar untuk antisipasi spike.
3. Hindari over-leverage – jaga risiko maksimal di 1–2 %.
4. Pilih pasangan stabil – USD/JPY, USD/CHF lebih “liquidy“.
5. Paper Trade atau account demo – strategi realistis sebelum risiko nyata.
6. Diversifikasi aset – pertimbangkan logam mulia atau energy equities.
7. Ikuti sentimen The Fed & BI – reaksi suku bunga menjelang dan setelah konflik sangat krusial.

Dampak Ekonomi & Kebijakan Moneter

1. Federal Reserve & ECB

1. The Fed kemungkinan tahan suku bunga; fokus pada data inflasi dan employment.
2. ECB & BOE menghadapi lewat tekanan inflasi energy‑driven, menunda rate cut.

2. Bank Indonesia

BI intervensi untuk meredam koreksi IDR (promoted triple intervention SVBI, SRBI, intervensi langsung)

Dampak Indonesia: Fokus pada BID, Inflation, IDR

1. Inflasi: Tekanan BBM & transport makin tinggi—sudah +3,5 % May 2025 (UK) dan berpotensi lebih di Indonesia jika minyak >US$90.
2. Subsidi BBM: Kenaikan US$1/barrel→ tambahan beban Rp3,5–4 triliun.
3. Rupiah: Lebih volatil, melemah jangka pendek hingga Rp17.000/US$, memicu BI intervensi.
4. Kenaikan suku bunga: Sebagai respon terhadap inflasi dan perlindungan Rupiah—ada risiko kredit perumahan dan konsumsi masyarakat terganggu.

Kesimpulan & Rekomendasi

1. Konflik Iran‑Israel: Volatilitas global naik.
2. Harga minyak: IDR, EUR, JPY turun; CAD, NOK, RUB naik.
3. Safe-haven shift: USD, JPY, CHF digemari.
4. Kebijakan bank sentral: The Fed & BI bersiaga.
5. Trader Forex: Butuh strategi defensif dan real-time monitoring.

Kesimpulan: Konflik besar ini mempercepat pergeseran sentimen global, mendorong mata uang safe‑haven, melemahkan EM, dan memperlebar spread suku bunga. Trader perlu waspadai lonjakan volatilitas, utamakan risiko rendah, dan tetap update berita serta data ekonomi real-time. Sedangkan akuntansi bank sentral seperti BI dan Fed akan sangat menentukan kestabilan mata uang.

Baca Juga: Apa Saja Faktor Pemicu Volatilitas Forex Menjadi Tinggi?

Lita Alisyahbana
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Emas atau Bitcoin: Investasi Saat Politik Global Tak Stabil

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trading Saham di EXNESS
To Top