Crypto

Penambang Bitcoin Core Scientific Terancam Bangkrut

Penambang Bitcoin Core Scientific Terancam Bangkrut

Penambang Bitcoin Core Scientific Terancam Bangkrut

Core Scientific, perusahaan penambang Bitcoin, mengumumkan dalam pengajuannya dengan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat (AS) bahwa pihaknya menangguhkan semua pembayaran utangnya. Dalam dokumen pengajuan kepada pihak SEC, Core Scientific menyatakan bahwa perusahaannya telah memutuskan untuk tidak lagi melayani pembayaran utang yang jatuh tempo pada akhir Oktober hingga awal November.

Kelesuan pada pasar aset kripto yang telah berlangsung sejak awal 2022 memang berdampak pada limbungnya sejumlah perusahaan. Banyak perusahaan dengan fokus kripto gulung tikar, dan kini giliran Core Scientific, yang dikabarkan mengajukan status kepailitan memburuknya kinerja keuangan.

Perusahaan mining yang sudah listing di Nasdaq itu umumnya menambang mekanisme Proof-of-Work (PoW) seperti Bitcoin. Seperti yang diketahui pada umumnya, prosesnya pasti membutuhkan peralatan yang mahal, beberapa pengetahuan teknis, dan banyak listrik. Tidak hanya itu, perusahaan juga melihat penurunan harga Bitcoin yang tertinggi sepanjang masa di level $69.000 pada November 2021, yang saat ini nilainya sekitar $20.000.

Performa mining juga diperparah karena sulitnya persaingan antar miner baik miner rumahan atau institusi, kemudian adanya kenaikan harga energi untuk mining. Dengan adanya pengumuman tersebut saham Core Scientific turun sebanyak 77% ke level 23 sen AS pada hari Kamis. Di sisi lain, saat ini Core hanya memegang 24 BTC atau nilainya sekitar di bawah US$ 495.000 pada harga hari ini, dan sekitar US$ 26,6 juta dalam bentuk tunai, berdasarkan data Decrypt.

Baca Juga: Bagaimana Jika Bitcoin Telah Habis Ditambang?

Masalah Penambang Bitcoin

Newsbtc.com memberitakan jika Core Scientific mesti menghadapi hal lain seperti pembengkakan pada tagihan listrik meyusul peningkatan tarif listrik. Perusahaan tersebut juga harus menghadapi kesulitan penambangan jaringan Bitcoin saat ini.

Core Scientific mengalami tingkat kesulitan penambangan aset kripto yang melonjak 13,55 persen. Dan angka tersebut dianggap yang terbesar sejak pertumbuhan 21,53 persen pada 2021. Indikator tingkat kesulitan ini menunjukkan kompleksitas dalam upaya penambangan blok pada jaringan blockchain aset kripto tertentu.

Semakin tinggi kesulitan berarti semakin besar daya komputasi tambahan untuk memverifikasi transaksi yang dimaksudkan pada sebuah blockchain. Urusan penambangan itu membuat total kepemilikan Bitcoin Core Scientic kian menipis. Berdasarkan keterbukaan informasi, Core masih menyimpan sekitar 1.501 Bitcoin pada September tahun lalu. Namun, kini hanya tersisa 24 Bitcoin.

Untuk diketahui, bahwa Core Scientific bukan satu-satunya perusahaan penambangan aset kripto yang mengajukan pailit. Compute North yang berkantor pusat di AS telah menyampaikan kebangkrutan pada September lantaran menanggung utang US$500 juta kepada setidaknya 200 kreditur.

Baca Juga: Bagaimana Nasib Penambang Jika Bitcoin Habis?

Terdampak Crypto Winter

Diketahui dari berbagai sumber, sedikit banyak kebangkrutan Core Scientific dipengaruhi oleh crypto winter. Dalam penjelasannya, istilah crypto winter adalah kondisi yang terjadi ketika nilai aset kripto mengalami penurunan drastis di bawah nilai tren bullish normal.

Hal ini dapat dicontohkan misalnya pada bulan Juni tahun 2021 lalu. Dimana lima aset kripto terkemuka di dunia nyaris mengalami penurunan dalam waktu seminggu. Akibatnya, sejumlah trader berspekulasi bahwa akan terjadi musim dingin bagi aset kripto, alias crypto winter.

Saat itu, Bitcoin yang merupakan aset kripto tersohor dengan kapitalisasi pasar saat itu mencapai 611 miliar dolar AS, selama sepekan turun sebesar 7,5 persen. Dan Ethereum juga nilainya merosot sebesar 14,5 persen. Kemudian, Binance Coin anjlok sebesar 14,6 dan Tether nilainya nyaris stagnan. Terakhir, Cardano (ADA) yang berada di urutan ketiga situs CoinMarketCap juga anjlok sebesar 6,4 persen.

Menurut para analis cryptocurrency, jika ketiga mata uang kripto teratas (Bitcoin, Ethereum, dan Binance Coin) sungguh memasuki crypto winter. Maka aset cryptocurrency lainnya akan terkena dampak secara tidak langsung. Sama halnya dengan jenis investasi lain, mata uang kripto juga memiliki peluang merugi, seperti isu yang saat ini beredar mengenai fenomena crypto winter.

Baca Juga: Penambangan Bitcoin Sudah Capai 19 Juta Koin, Berapa Sisanya?

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

hadiah trading octafx
To Top