Crypto

Setelah Usulkan Larang Kripto, Rusia Akan Uji Coba Ruben Digital

Setelah Usulkan Larang Kripto, Rusia Akan Uji Coba Ruben Digital

Setelah Usulkan Larang Kripto, Rusia Akan Uji Coba Ruben Digital

Diketahui, pada pekan lalu Bank sentral Rusia telah mengeluarkan pelarangan terkait perdagangan mata uang kripto (cryptocurrency) di wiliayah setempat. Ini artinya, daftar negara yang melarang mata uang kripto menjadi semakin bertambah. Mengutip dari berbagai sumber, dilaporkan bahwa Rusia menjadi negara ke 10 setelah sebelumnya terdapat China, Mesir, Irak, Qatar, Oman, Maroko, Aljazair, Tunisia, dan Bangladesh.

Dalam penjelasannya, Bank sentral Rusia mengatakan bahwa skema Ponzi, yang terlalu mudah berubah untuk investasi yang sah. Selain itu, mata uang kripto juga dinilai sebagai alat untuk kegiatan kriminal, dan berisiko bagi kedaulatan keuangan Rusia, hingga dapat mengganggu pasokan energi Rusia serta merusak lingkungan.

Sebelumnya, pada 2020 silam Rusia juga telah mengecam kripto sebagai alat pembayaran. Negara yang dipimpin oleh Putin tersebut juga akan melarang lembaga keuangan menangani transfer aset digital apapun, termasuk membeli Bitcoin. Selain itu, Rusia akan segera menghentikan penambangan Bitcoin di negaranya lantaran masalah lingkungan.

Setelah mengeluarkan larangan terhadap kripto, Rusia juga diketahui akan segera mengikuti jejak China yang sudah terlebih dulu meluncurkan Yuan Digital pada tahun lalu. Mengutip dari Bitcoin.com News, Bank Sentral Rusia (CBR) menyelesaikan prototipe platform rubel digital pada bulan Desember dan sekarang mulai bereksperimen dengan transaksi.

Terdapat 12 bank yang sudah diundang untuk bergabung pada tahap pertama dari fase percontohan proyek. Otoritas moneter secara bertahap memperluas jangkauan peserta untuk memasukkan penyedia layanan keuangan dan jenis transaksi lainnya.

Maxim hrustalev selaku penasihat wakil ketua bank Promsvyazbank (PSB) mengatakan, “Pengujian teknis pembayaran C2B (Consumer-to-business), B2C (Business-to-Consumers) dan B2B (Business to Business) akan dimulai. Berdasarkan hasil uji coba, Bank Rusia akan mulai memperkenalkan platform rubel digital ke dalam operasi komersial”.

Meski dilakukan dalam skala kecil untuk pembayaran pelanggan-ke-pelanggan (C2C), namun uji coba ini merupakan tahap kesekian kalinya setelah rubel digital diluncurkan pada 2020 lalu.

Sementara itu, mayoritas cryptocurrency terpantau melemah pada perdagangan Kamis (27/1/2022) pagi waktu Indonesia, setelah sehari sebelumnya sempat rebound, karena investor cenderung merespons negatif dari pernyataan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang berencana menaikkan suku bunga acuannya pada Maret 2022.

Dalam pernyataan The Fed, dikatakan, “Dengan inflasi yang jauh di atas 2% dan pasar tenaga kerja yang kuat, Komite mengharapkan akan segera menaikkan kisaran target suku bunga acuan”.

Ketua The Fed Jerome Powell memperingatkan bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk jangka panjang dan masalah rantai pasokan ternyata lebih besar serta lebih tahan lama dari yang diperkirakan sebelumnya

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:30 WIB, Bitcoin merosot 2,73% ke level harga US$ 35.952,61/koin atau setara dengan Rp 517.717.584/koin (asumsi kurs Rp 14.400/US$), Ethereum drop 2,76% ke level US$ 2.386,20/koin atau Rp 34.361.280/koin.

Binance Coin (BNB) ambles 3,71% ke US$ 366,10/koin (Rp 5.271.840/koin), Solana ambruk 6,81% ke US$ 87,01/koin (Rp 1.252.944/koin), dan Terra anjlok 9,42% ke US$ 56,17/koin (Rp 808.848/koin).

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top