Finansial

Utang Jepang Menggunung Tembus Rp 183.000 Triliun

Negara Jepang telah dikenal sebagai pemimpin global dalam urusan menumpuk utang. Baru-baru ini negeri sakura itu bahkan menambah kembali jumlah utangnya senilai hampir US$ 2 triliun. Bank of Japan (BoJ) mencatat pada akhir tahun lalu nilai utang Jepang mencapai 1,3 triliun yen atau sekitar angka US$ 12,2 triliun. Jika dihitung dengan hitungan rupiah terhadap dolar, maka akan ditemukan jumlah sekira Rp 183.000 triliun.

Utang-utang itu digunakan untuk membiayai berbagai paket stimulus guna meredam dampak dari virus corona yang menyerang perekonomian negara itu.

Utang dengan angka total tersebut jika dibandingkan dengan jumlah total utang dari negara Amerika Serikat, hanya lewat sedikit dari setengahnya. Namun angka tersebut dinilai masih sangat besar jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi Jepang, yakni sekitar 240 persen dari produk domestik brutonya (PDB). Untuk diketahui, Jepang merupakan ekonomi terbesar nomer tiga di dunia setelah AS dan China.

Sebelumnya, mengutip dari BBC pada hari Senin (18/5/2020) yang lalu, dilaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jepang minus 3,4 persen pada periode bulan Januari hingga Maret 2020 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.

Seperti yang diketahui, Jepang tidak memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona. Negara tersebut hanya mengumumkan kondisi darurat pada bulan April yang silam. Pilihan ini ternyata membawa dampak yang sangat buruk bagi rantai pasok dan bisnis di Jepang.

Utang Jepang Menggunung Tembus Rp 183.000 Triliun

Utang Jepang Menggunung Tembus Rp 183.000 Triliun

Namun mengenai utang yang menggunung itu, Jepang masih berhasil mempertahankan imbal hasil obligasi pemerintah di level yang sangat rendah dan memiliki kepercayaan investor yang tinggi sehingga dapat menghindari default atau gagal bayar meski tingkat utangnya sekitar dua setengah kali dari ukuran ekonominya.

Melansir dari AFP, utang Jepang pertama kali melampaui 100 persen dari PDB adalah ketika pada akhir tahun 1990-an. Pada saat itu gelembung keuangan dan real estatnya meledak hingga menimbulkan dampak yang merusak. Dalam catatan dari Dana Moneter Internasional (IMF) angka utang Jepang terus mengalami kenaikan hingga mencapai level 200 persen dari PDB pada tahun 2010, dan sekarang naik sekitar 240 persen dari PDB.

Pada hari Rabu (10/6/2020) ini parlemen Jepang baru menyetujui langkah-langkah anti coronavirus senilai 117 triliun yen. Ini artinya, diperkirakan utang Jepang akan kembali naik menembus 250 persen dari PDB.

Namun hal ini tidak membuat Jepang merasa khawatir karena negara itu telah menerbitkan obligasi. Obligasi ini dalam denominasi yen, masih dipandang sebagai tempat yang aman di masa ekonomi yang sulit dan proporsi yang dipegang oleh lembaga asing sangat rendah, sehingga membuat Jepang kurang rentan terhadap tekanan dari eksternal.

Tidak hanya itu, Jepang juga dikenal sebagai kreditor terbesar di dunia, memegang lebih dari US$ 4 triliun aset bersih dalam cadangan mata uang asing dan investasi langsung di luar negeri.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top