Finansial

Rencana 2020-2024: Redenominasi, Mengubah Rp 1.000 Menjadi Rp 1

Pemerintah siap untuk melakukan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang tidak sedikit dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2020-2024. Salah satu RUU yang menarik adalah penyederhanaan rupiah atau RUU tentang Perubahan Harga Rupiah.

Pada hari Senin (6/7/2020) ini, Kemenkeu dalam PMK-nya menulis, “RUU tentang Perubahan Harga Rupiah (RUU Redenominasi). Urgensi pembentukan: Menimbulkan efisiensi perekonomian berupa percepatan waktu transaksi, berkurangnya risiko human error, dan efisiensi pencantuman harga barang/jasa karena sederhananya jumlah digit Rupiah”.

Sementara untuk urgensi yang kedua, adalah menyederhanakan sistem transaksi, akuntansi dan pelaporan APBN karena tidak banyaknya jumlah digit Rupiah.

Apa itu Redenominasi?

Redenominasi adalah penyederhanaan dan penyetaraan nilai Rupiah. Dalam kajian oleh Bank Indonesia (BI) dijelaskan, redenominasi bukanlah sanering atau pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang.

Proses ini biasanya dilakukan dalam kondisi ekonomi yang stabil dan menuju ke arah yang lebih sehat. Sementara untuk sanering, adalah pemotongan uang yang tidak sehat, dimana yang dipotong hanya nilai uangnya.

Rencana 2020-2024: Redenominasi, Mengubah Rp 1.000 Menjadi Rp 1

Rencana 2020-2024: Redenominasi, Mengubah Rp 1.000 Menjadi Rp 1Rencana 2020-2024: Redenominasi, Mengubah Rp 1.000 Menjadi Rp 1

Dalam proses redenominasi, baik itu nilai uang atau barang, hanya dihilangkan beberapa angka nol-nya saja. Dengan kata lain, redenominasi akan menyederhanakan penulisan nilai barang atau jasa yang diikuti pula penyederhanaan penulisan alat pembayaran uang.

BI menjelaskan, “Pelaksanaan dari Redenominasi Rupiah, saat ini masih dalam kajian beberapa lembaga terkait, untuk proses selanjutnya menunggu arahan dan kebijakan dari pemerintah lebih lanjut”.

Sebagai tambahan informasi, pada tahun 2010 lalu, BI pernah merencanakan lima tahapan pelaksanaan redenominasi rupiah. Pada tahap pertama, yaitu pada 2010, BI melakukan studi banding tentang redenominasi di beberapa negara.

Tahap kedua, pada tahun 2011-2012 merupakan masa sosialisasi. Tahap ketiga yaitu 2013-2015 yang merupakan masa transisi ketika ada dua kuota penyebutan nominal uang. Tahun 2016-2018 adalah tahap keempat, BI akan memastikan uang lama yang belum dipotong jumlah nolnya akan benar-benar habis dengan batas penarikan pada tahun 2018.

Dan untuk tahap yang kelima, tahun 2019-2020, keterangan baru dalam uang cetakan baru akan dihilangkan. Masyarakat siap melakukan pembayaran dengan uang yang telah diredenominasi.

BI belum akan menerapkan redenominasi dalam waktu dekat ini karena BI menyadari bahwa proses tersebut membutuhkan komitmen nasional serta waktu dan persiapan yang cukup panjang. Hasil dari kajian yang dilakukan akan diserahkan kepada pihak-pihak terkait agar menjadi komitmen nasional.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top