Aliran modal asing keluar (capital outflow) dari Indonesia akan cukup banyak terjadi pada bulan depan. Begitulah Faisal Basri -ekonom senior- memperkirakan tentang ini. Hal ini terjadi sebagai dampak dari puncak pandemi virus corona yang terjadi mulai 14 Juni 2020 di tengah masa transisi menuju tatanan hidup baru (new normal).
Ekonom senior tersebut dalam penjelasannya mengatakan, peningkatan aliran modal asing memang cukup besar dalam beberapa waktu terakhir. Peningkatan ini turut memberi dampak pada penguatan nilai tukar rupiah.
Seperti yang sudah diberitakan, semula nilai mata uang rupiah sempat mencapai kisaran Rp 16.000 per dolar Amerika. Situasi ini terjadi saat virus corona mewabah di dalam negeri. Kini berangsur turun menjadi Rp 14.000 ribu per dolar AS.
Pemerintah banyak menerbitkan surat utang dalam rangka memenuhi kebutuhan dana penanganan virus corona, sehingga banyak investor asing yang kebetulan tengah memiliki kecukupan dana akibat suntikan stimulus moneter (quantitative easing) dari kebijakan di negara mereka masing-masing tertarik dengan hal ini.
Namun, menurut Faisal, kehadiran aliran modal asing di dalam negeri tidak akan berdurasi lama. Sebab musababnya adalah perkembangan mengenai kasus virus corona yang akan memberikan sentimen negatif bagi mereka.
Faisal mengatakan proyeksi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan puncak pertambahan kasus virus corona akan meningkat di Indonesia setelah 14 Juni 2020. Puncak tersebut terjadi karena pemerintah memaksakan berlangsungnya new normal. Menurut Faisal, kebijakan itu akan memberi celah bagi penambahan kasus infeksi virus corona.
Ia mengatakan, “Kemarin sudah mulai di atas 1.000 kasus per hari. Kemudian akibat new normal yang dipaksakan, itu munculnya nanti bulan depan. Nah, pada saat itulah asing mulai menjual bonds-nya (surat utang) lagi”.
Faisal menambahkan, “Nanti BI harus turun tangan. Nah, keluarkan lagi cadangan devisa”. Komentarnya ini adalah tentang Bank Indonesia yang mau tidak mau harus bersiap diri untuk kembali memborong surat utang yang dilepas asing. Bila bank sentral nasional tidak siap membeli surat utang dan mengorbankan cadangan devisa, maka akan berdampak pada nilai tukar rupiah yang berpotensi kembali melemah.
Mengenai nilai rupiah yang melemah, Faisal mengatakan akan mudah terjadi karena selama ini sentimen penopang hanya berupa aliran modal asing. Sementara indikator lain, misalnya defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) belum bisa memberi daya tahan kepada rupiah.
Ia juga turut menyoroti perubahan tren sentimen ekonomi saat ini. Pasalnya, ada sedikit anomali, di mana biasanya pasar akan bereaksi negatif bila indikator ekonomi memburuk, namun yang terjadi saat ini justru sedikit berbeda. Faisal mencontohkan tentang tingkat pengangguran di AS. Ketika tingkat penganggurannya buruk, kondisi pasar keuangan negara Paman Sam itu justru menguat. Begitu juga pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia.
Ia mengatakan, “Jadi banyak yang bertanya-tanya juga ekonom di berbagai negara, saat ini semakin tidak ada hubungannya antara kinerja pasar modal dan pasar uang dengan kinerja ekonomi”.




