Finansial

Diam-Diam China Dapat Untung di Tengah Pandemi Corona

Virus corona atau yang dikenal dengan nama Covid-19, mulai dan bahkan telah mereda di China. Situasi ini dianggap menjadi kesempatan bagi negara tirai bambu tersebut untuk unggul dari negara saingannya yaitu Amerika Serikat (AS).

Seperti yang sudah diketahui, virus yang menyerang dan berdampak pada sistem pernafasan ini bermula dari kota Wuhan pada akhir Desember tahun lalu. Dan jika dihitung, China butuh waktu tiga bulan untuk berhasil menaklukan wabah virus ini. Tapi yang terjadi selanjutnya, virus ini bergeser dan menyebar ke berbagai negara lain, seperti Italia, AS, bahkan Indonesia.

Pada bulan Maret lalu, kasus virus corona di Tiongkok tercatat semakin rendah. Situasi ini membuat lockdown sudah tidak berlaku, sehingga penduduk di sana bisa kembali beraktivitas dan ekonomi mulai kembali bergeliat.

Dari angka Purchasing Manager Index (PMI) dapat dilihat, bahwa manufaktur yang mengalami kenaikan hingga 50,3 pada Maret 2020. Padahal pada bulan Februari sebelumnya, angka PMI manufaktur China hanya sebesar 35,7 dengan kata lain mengalami kontraksi.

Secara pelan-pelan China bangkit dan membangun ekonominya, juga gencar memberikan bantuan ke negara-negara yang terdampak virus corona. Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden China Xi Jinping dikabarkan menelepon para pemimpin dunia untuk meningkatkan koordinasi dalam menangani pandemi virus corona.

Diam-Diam China Dapat Untung di Tengah Pandemi Corona

Diam-Diam China Dapat Untung di Tengah Pandemi Corona

Hal yang sama juga terjadi pada laman sosial media Twitter. Pejabat China gencar mempromosikan keberhasilan China dalam menangani krisis kesehatan dan aktif membantu yang lain dengan mengirimkan suplai bantuan kebutuhan medis ke Afrika hingga Eropa.

Pada hari Minggu (12/4/2020) analisis dari Grup Eurasia dalam sebuah laporan mengatakan, “Ini adalah krisis internasional pertama di mana China secara aktif mengambil peran kepemimpinan global dan itu sangat kontras dengan AS, yang telah meremehkan kerja sama internasional dan menginvestasikan lebih banyak modal politik dalam mengkritik China karena perannya dalam memungkinkan wabah menyebar”.

Associate profesor ekonomi di London School of Economics (LSE), Keyu Jin mengatakan adalah kesempatan abad ini bagi China untuk membangun kepercayaan di dunia, yang telah sulit ditemukan sebagai negara yang sedang bangkit, dan untuk membangun kembali citra internasionalnya.

China telah menjelma menjadi perekonomian terbesar kedua setelah menyalip Jepang pada tahun 2010 silam. Negeri tirai bambu itu memang berambisi menjadi negara adidaya baru untuk menentang hegemoni AS yang sudah berabad-abad lamanya menjadi ekonomi nomor satu di planet bumi. China telah memainkan peranannya dan telah menjadi sorotan dunia.

Untuk China, ini merupakan kesempatan emas untuk membangun citra sebagai kekuatan ekonomi global. Juga akan berpotensi besar meningkatkan tensi geopolitik terutama poros Washington-Beijing.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top