Finansial

Dolar Sudah Tembus Rp 16.000, Krisis 1998 Akan Terulang?

Pada hari ini nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menembus pada angka Rp 16.000. Penguatan ini dipicu oleh kepanikan pasar akibat penyebaran virus covid-19 di berbagai negara. Untuk diketahui, saat krisis tahun 1998 yang lalu, nilai tukar dolar berada pada kisaran Rp 16.800.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, meski angkanya sama-sama berada di level Rp 16.000an, tapi kondisi ini berbeda dengan saat krisis 1998 lalu.

Ia menjelaskan, bawah ketika krisis 1998 karena fundamentalnya belum kuat. Saat ini meski mengalami pelemahan tapi fundamental ekonomi Indonesia sudah kuat.

Kondisi ini memang menggambarkan bahwa saat ini pelaku pasar memang sedang menghadapi kepanikan yang luar biasa akibat meluasnya penyebaran wabah corona.

Ibrahim mengungkapkan, kepanikan pasar atas penyebaran virus corona yang semakin mengkhawatirkan membuat Bank Indonesia (BI) kemarin memutuskan untuk menurunkan suku bunga BI sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen. Dengan melihat kondisi ekonomi global yang diakibatkan dari dampak virus corona, adalah alasan keputusan itu diambil.

Dolar Sudah Tembus Rp 16.000, Krisis 1998 Akan Terulang?

Dolar Sudah Tembus Rp 16.000, Krisis 1998 Akan Terulang?

Selain menurunkan suku bunga deposit facility turun 25 bps menjadi 3,75, BI juga menurunkan suku bunga lending facility turun 25 bps menjadi 5, 25 persen. Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi adalah langkah preemptive dari kebijakan moneter yang tetap akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali.

Menurut Ibrahim, apa yang dilakukan oleh BI adalah sudah mengikuti sesuai dengan anjuran Bank Sentral global, namun BI belum bisa menjaga stabilitas mata uang rupiah akibat pasar yang panik karena dinamika-dinamika penyebaran virus corona yang sangat cepat.

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukan adalah dengan selalu menyediakan suplai dolar AS di pasar, dengan tujuan untuk menenangkan pasar.

Perry menjelaskan, kepanikan membuat para investor melakukan penjualan asetnya secara bersamaan dan menerimanya dalam bentuk dolar AS. Hal itulah yang membuat dolar AS menggila, lantaran banyak diserap oleh pasar termasuk di Indonesia.

Menurut data Perry, hingga 19 Maret 2020 telah terjadi penarikan dana asing (capital outflow) yang totalnya mencapai Rp 105,1 triliun. Terdiri dari SBN yang dilepas asing Rp 92,8 triliun dan pasar saham Rp 8,3 triliun.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top