Trading

Goldman Sachs Sarankan Jual Dolar AS Saat New Normal, Kenapa?

Goldman Sachs menyebutkan bahwa beberapa sentimen yang menekan dolar AS diantarannya adalah rencana pembukaan kembali ekonomi beberapa negara yang mulai stabil akibat pandemi virus corona, kemudian bukti terbatas adanya kenaikan tingkat infeksi Covid-19.

Tidak hanya itu saja, sentimen lainnya adalah langkah kebijakan seperti progres dari Dana Pemulihan Uni Eropa (UE Recovery Fund), program pinjaman senilai 750 miliar euro (US$ 834,1 miliar) yang dirancang untuk membantu menopang perekonomian Eropa guna melawan pandemi virus corona.

Dalam catatan selama akhir pekan lalu, ahli strategi forex dari Goldman Sachs mengatakan, bahwa ketika mereka mempertahankan analisis bahwa masih terlalu dini memanfaatkan penurunan dolar AS secara langsung dan berkelanjutan karena adanya siklus keseimbangan risiko, maka posisi short atau jual atas dolar AS menjadi menarik daripada long (beli).

Goldman Sachs mulai memasang posisi jual (short) terhadap dolar AS seiring dengan rencana pembukaan kembali ekonomi di beberapa negara akibat pandemi virus corona yang diprediksi bisa memicu investor keluar dari memegang mata uang safe-haven seperti dolar AS.

China, negara awal virus corona, sudah melonggarkan lockdown sejak bulan Maret yang lalu, dan memberikan bukti bahwa perekonomian bisa segera bangkit. Hal ini terlihat dari sektor manufaktur yang kembali berekspansi dalam tiga bulan beruntun setelah mengalami kontraksi tajam di bulan Maret.

Dilaporkan pada hari Minggu (31/5/2020) lalu, purchasing managers’ index (PMI) manufaktur China di bulan Mei sebesar 50,6. Meski menurun dari bulan sebelumnya 50,8 tetapi masih di atas 50, yang berarti bahwa sektor manufaktur China masih berekspansi. Pada bulan Maret, PMI manufaktur China berada pada level 52, naik tajam daripada bulan Februari sebesar 35,7 yang merupakan kontraksi terdalam sejarah.

Goldman Sachs Sarankan Jual Dolar AS Saat New Normal, Kenapa?

Goldman Sachs Sarankan Jual Dolar AS Saat New Normal, Kenapa?

Goldman secara khusus justru membidik mata uang Krone Norwegia (NOK) sebagai posisi yang baik untuk mengungguli mata uang lainnya selama sisa krisis virus corona. Bahkan bank investasi yang bermarkas di New York City itu merekomendasikan short untuk pasangan USD/NOK dengan target harga di level 8,75 per dolar AS, dengan level stop loss (berhenti) jika Krone terdepresiasi ke level 10,25 per dolar AS. Untuk diketahui, saat ini Krone diperdagangkan di level 9,68 terhadap dolar AS.

Mengutip dari CNBC International di hari Selasa (2/6/2020) ini, Zach Pandl dan Kamakshya -analis Goldman yang dipimpin oleh Co-Head pertukaran mata uang global Goldman- mengatakan, “Kondisi demografi dan infrastruktur medis domestik (Norwegia) menjadikan negara ini lebih siap menghadapi wabah ketimbang banyak negara lain. (Ditambah lagi) posisi fiskal yang kuat menempatkan (Norwegia) pada keuntungan yang berbeda”.

Goldman Sachs juga menulis, “Saat (negara) lain terpaksa membatasi dukungan fiskal atau secara dramastis menambah pinjaman -keduanya berpotensi memicu mata uang negatif- Norwegia mampu mengembalikan dana dari investasinya di luar negeri, membantu mendukung ekonomi dan mata uangnya (terapresiasi)”.

Mengutip catatan dari CNBC International, analis Goldman Sachs melihat bahwa infrastruktur kesehatan Norwegia dan posisi fiskal yang bagus sebagai dasar saran tersebut.

Norwegia juga mengumumkan rencana stimulus fiskal fase ketiga pada Maret dan mengembangkan dua skema pinjaman dan penjaminan yang didukung pemerintah untuk menyediakan likuiditas bagi bisnis perusahaan-perusahaan di negara tersebut.

Pada hari Minggu, negara tersebut juga mengumumkan bahwa akan meningkatkan transaksi harian dana investasi di luar negeri dari NOK 2,1 miliar, menjadi NOK 2,3 miliar atau setara Rp 3,5 triliun (hitungan asumsi 1 NOK: Rp 1.503).

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top