Finansial

Skandal Investasi Bodong Rp 25 T, Korban 17.000 Investor

Tawaran investasi bodong dengan skema Ponzi kembali terungkap di Amerika Serikat (AS). Sebuah perusahaan pengelola uang di New York telah melakukan praktik ini. Kasus ini tercatat merupakan yang terbesar ke-2 di Amerika Serikat (AS) setelah kasus Madoff Investment pada tahun 2008.

Pada hari Kamis (4/2/2021) kemarin, pendiri sebuah perusahaan pengelola uang di New York dan dua rekannya didakwa secara pidana.

Dakwaan itu diberikan kepada kepala eksekutif GPB Capital Holding LCC David Gentile karena perusahaannya melakukan penipuan dengan skema Ponzi senilai US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 25,3 triliun (asumsi Rp 14.072/US$).

Melansir dalam laman Investopedia (17/7/2019), investasi dengan skema ponzi pada dasarnya murni perputaran uang dari anggotanya sendiri. Skema ponzi mengandalkan aliran investasi baru yang konstan untuk terus memberikan pengembalian kepada investor yang lebih dulu. Apabila aliran habis, skema tersebut akan berantakan.

Terkait dengan investasi bodong GPB Capital Holdings LLC, Gentile dituduh telah menipu lebih dari 17.000 investor ritel. Dirinya menjanjikan pengembalian investasi stabil tahunan 8% bahkan ketika perusahaan itu mengalami kerugian.

Aparat berwenang mengatakan bahwa perusahaan GPB tersebut menjanjikan kepada investor bahwa pembayaran mereka akan didanai oleh pendapatan dari kepemilikan perusahaan, termasuk sekelompok dealer mobil. Padahal sebenarnya porsi tersebut berasal dari uang investor baru.

Skandal Investasi Bodong  Rp 25 T, Korban 17.000 Investor

Skandal Investasi Bodong Rp 25 T, Korban 17.000 Investor

Sekitar 17.000 investor terjebak dalam investasi ini, dan 4.000 di antaranya investor berpengalaman, menurut komplain yang disampaikan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).

Menurut SEC, GPB Capital telah mengumpulkan sejumlah besar dana dari investor individu di seluruh AS dan hampir semuanya masih berisiko.

Pada tahun 2018, GPB menangguhkan penebusan dan distribusi, arena asetnya jauh di bawah kewajiban kepada investor, demikian pemberitahuan ke SEC.

Jika terbukti, kasus skema Ponzi ala GPB Capital ini akan menjadi salah satu skema terbesar yang menargetkan investor individu sejak penipuan besar-besaran Bernard Madoff dan Robert Allen Stanford terungkap.

William McGovern, seorang pengacara untuk Gentile, menolak mengomentari tuduhan tersebut. Situs web perusahaan telah ditutup pada hari Kamis (4/2/2021) lalu.

Kepala Biro Investigasi Federal (FBI) New York, William Sweeney mengatakan, “Para tergugat salah mengartikan kepemilikan GPB Capital melalui praktik pemasaran yang menipu, memikat investor dengan janji distribusi bulanan yang akan ditanggung oleh dana dari investasi dan tidak ditarik dari modal yang diinvestasikan”.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top