Saham

Alibaba Cs Bakal Terdepak dari Bursa AS. Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Pada hari Rabu (20/5/2020) di waktu Amerika Serikat (AS), Senat AS meloloskan rancangan undang-undang (RUU) di bidang pasar modal. Yaitu “Holding Foreign Companies Accountable Act“. RUU tersebut sebelumnya diajukan oleh John Kennedy, seorang senator Lousiana dari Partai Republik, juga senator Demokrat dari Maryland bernama Chris Van Holle dan disetujui secara bulat oleh senat. RUU ini akan menekan perusahaan-perusahaan China yang tercatat di bursa AS seperti Alibaba Group Holding Ltd. dan Baidu Inc. terdepak dari bursa saham AS di tengah hubungan kedua negara yang makin memanas.

Menurut sumber dari Bloomberg, sejauh ini belum ada tindaklanjut dari DPR AS (House of Representatives) atas RUU ini. Wajarnya adalah setelah kongres AS sepakat (senat/DPD dan DPR), RUU tersebut nantinya masuk ke Gedung Putih, untuk menunggu persetujuan dari Presiden AS Donald Trump yang nantinya akan mengesahkan atau memvetonya.

RUU itu nantinya akan beregulasi mengatur agar perusahaan-perusahaan yang masuk ke bursa AS menyatakan bahwa mereka tidak di bawah kendali pemerintah asing. Perusahaan asing wajib diaudit oleh Dewan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik (Public Company Accounting Oversight Board) jika perusahaan tersebut sebelumnya menggunakan perusahaan akuntansi asing yang tidak dapat diperiksa oleh dewan.

Dewan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik diawasi oleh otoritas bursa Securities and Exchange Commission (SEC). Ini adalah badan nirlaba yang mengawasi audit semua perusahaan AS yang ingin mencari dana di pasar saham.

Alibaba CS Bakal Terdepak dari Bursa AS. Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Alibaba CS Bakal Terdepak dari Bursa AS. Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Senator John Kennedy menjelaskan, “Ada banyak pasar (saham) di seluruh dunia yang terbuka untuk (berbuat) curang, tetapi Amerika tidak bisa menjadi salah satu dari mereka. China sedang mencoba mendominasi dan curang di setiap kesempatan. Saya berharap kolega saya di DPR akan segera mengirimkan RUU ini ke meja presiden sehingga kita dapat melindungi orang Amerika dan tabungan mereka (dari investasi di perusahaan China).

Meskipun RUU ini nantinya dapat diterapkan kepada semua perusahaan asing yang mencari akses pendanaan ke pasar modal AS lewat Bursa New York Exchange (NYSE) dan Nasdaq, tetapi anggota parlemen mengatakan bahwa regulasi ini memang membidik perusahaan asal Beijing.

SEC juga baru-baru ini memperingatkan bahwa investasi pada perusahaan berbasis asing dapat menimbulkan risiko luar biasa. Lembaga ini juga telah mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan rapat pada 9 Juli mendatang untuk mendengarkan pandangan dari para investor.

Pengesahan RUU melalui persetujuan bulat sekitar tengah hari di senat ini mencerminkan bahwa ada kemarahan yang tumbuh di antara para anggota parlemen AS terhadap China, akibat dari penanganan terhadap wabah virus corona juga tidak standarnya pengungkapan keuangan di AS.

Sebelumnya, pengelola bursa Nasdaq (Nasdaq Inc.) juga dikabarkan mengatur pembatasan baru bagi perusahaan yang ingin melepas saham perdana lewat mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) alias go public. Rencana ini tentunya akan menyulitkan beberapa perusahaan China melakukan debut di bursa saham AS.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top