Bisnis

Bahaya! Gelombang 2 Virus Corona Bisa Jadi Kehancuran Pasar Minyak

Pada Kamis (14/5/2020) pagi ini harga minyak patokan internasional, minyak mentah Brent diperdagangkan naik sekitar 1,8 persen menjadi US$ 29,72 per barel. Sementara untuk harga West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melonjak lebih dari 2 persen menjadi US$ 25,84 per barel.

Jika melihat pada perdagangan di bulan lalu, harga minyak mentah AS sempat jatuh dan bahkan menyentuh harga minus US$ 40 per barel. Momen soal harga minyak yang jatuh gila-gilaan di bulan April itu dijuluki sebagai “Black April” oleh Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, bahwa pasar minyak telah mulai membaik dalam beberapa minggu terakhir, setelah mengalami gangguan yang cukup besar akibat dari virus corona dan kelebihan pasokan. Tetapi, situasi ini bisa menjadi berubah dan terancam hancur kembali jika terjadi gelombang kedua infeksi virus corona.

IEA mengatakan, “Produksi minyak bereaksi besar terhadap kekuatan pasar dan aktivitas ekonomi mulai pulih secara bertahap tetapi rapuh. Namun, ketidakpastian utama tetap ada”. Badan energi yang berbasis di Paris itu menambahkan, “(Tantangan) yang terbesar adalah apakah pemerintah dapat melonggarkan penguncian (lockdown) tanpa memicu kebangkitan wabah Covid-19”.

Bahaya! Gelombang 2 Virus Corona Bisa Jadi Kehancuran Pasar Minyak

Bahaya! Gelombang 2 Virus Corona Bisa Jadi Kehancuran Pasar Minyak

Apakah Opec+ akan mencapai tingkat kepatuhan yang tinggi dalam hal pengurangan output sesuai yang disepakati, adalah juga menjadi risiko yang lainnya. Sebagai informasi, Opec+ adalah kelompok gabungan negara pengekspor minyak utama (Opec) dan sekutu non-Opec.

Menurut IEA, ada faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi, yaitu penurunan konsumsi minyak juga perlu menjadi perhatian. IEA dalam laporan bulanannya, memproyeksikan bahwa permintaan minyak akan turun 8,6 juta barel per hari (bpd) menjadi 91,2 juta bpd tahun ini. Jumlah itu 0,7 juta bpd lebih besar dari yang diantisipasi kelompok itu dalam laporan sebelumnya. Proyeksi penurunan konsumsi minyak ini akan menjadi penurunan permintaan terbesar dalam sejarah.

IEA juga mengatakan, bahwa dengan pengurangan produksi dari negara-negara di luar perjanjian Opec+ (seperti AS dan Kanada), itu artinya output akan 3 juta bpd lebih rendah pada bulan April dibandingkan pada awal tahun. Lembaga ini menyatakan, pemangkasan bisa menjadi 4 juta bpd lebih rendah pada bulan Juni, dan akan semakin banyak ke depannya.

Sementara dari sisi penawaran, diperkirakan akan ada penurunan spektakuler mencapai 12 juta bpd bulan ini, jatuh ke level terendah sembilan tahun ke 88 juta bpd.

Penurunan itu diproyeksikan terjadi setelah Opec+ setuju untuk memangkas produksi mencapai rekor 9,7 juta bpd pada bulan Mei dan Juni. Pimpinan Opec, Arab Saudi sejak itu mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk memotong output dengan tambahan 1 juta bpd menjadi 7,5 juta bpd pada bulan Juni.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top