Bisnis

Di Tengah Proyeksi Penurunan Konsumsi BBM, Harga Minyak Jatuh

Pada perdagangan di hari Kamis (9/7/2020) waktu Amerika Serikat (AS), harga minyak alami penurunan. Harga minyak merosot sekitar US$1 per barel, hal itu terjadi karena investor khawatir konsumsi BBM menurun jika AS kembali terapkan lockdown sebagai pilihan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Mengutip dari Antara pada hari Jumat (10/7/2020) ini, Analis Pasar Minyak Rystad Energy Louise Dickson, mengatakan, “Karena AS, Brasil dan negara-negara lain terus dihantam oleh Covid-19, permintaan dipertaruhkan”.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman di bulan September turun 94 sen atau 2,2 persen menjadi US$ 42,35 per barel. Sementara untuk minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman di bulan Agustus tergelincir US$ 1,28 dolar AS atau 3,1 persen menjadi US$ 39,62 per barel.

Seperti yang diketahui, negeri Paman Sam itu masih berupaya untuk terus mengurangi penyebaran pandemi wabah virus corona. Pada hari Rabu (8/7/2020) yang lalu, dilaporkan ada lebih dari 60 ribu kasus baru mengenai virus ini. Peningkatan tersebut tercatat sebagai peningkatan harian terbesar yang dialami satu negara.

Mengenai kondisi ini, sejumlah negara bagian AS kembali menerapkan lockdown di antaranya adalah California dan Texas. Dengan seperti ini, konsekuensi yang akan dihadapi adalah pemulihan permintaan bahan bakar akan tertahan.

Di Tengah Proyeksi Penurunan Konsumsi BBM, Harga Minyak Jatuh

Di Tengah Proyeksi Penurunan Konsumsi BBM, Harga Minyak Jatuh

Untuk catatan, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok bensin AS turun 4,8 juta barel pada pekan lalu, jauh lebih besar dari perkiraan para analisis, ketika permintaan mencapai level tertinggi sejak 20 Maret yang lalu.

Tidak hanya itu, Genscape juga melaporkan bahwa stok minyak mentah naik hingga 2 juta barel di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma dalam sepekan hingga hari Selasa (7/7/2020).

Permintaan bahan bakar di India yang turun mencapai angka 7,9 persen pada bulan Juni dibadingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, juga mempengaruhi sentimen pasar.

Phil Flynn -Analis senior di Price Futures Group di Chicago-, mengatakan, “Angka permintaan India mengecewakan. Itu tidak sesuai dengan narasi yang kami dengar bahwa ekonomi India bangkit kembali”.

Pasokan minyak Libya juga masih diliputi ketidakpastian. Untuk informasi, pelabuhan Libya sempat diblokir sejak Januari yang lalu. Kegiatan ekspor minyak rencananya akan kembali dilakukan usai perusahaan minyak negara tersebut mencabut status force majeure di terminal minyak Es Sider-nya pada hari Rabu (8/7/2020). Tapi sebuah kapal tanker dicegah untuk memuat dan kapal tanker kedua saat ini sedang menuju pelabuhan.

Meski demikian, harga minyak berjangka masih bertengger di kisaran US$ 40 dolar per barel. Sejumlah analisis memproyeksi harga akan tetap bertahan dalam kisaran itu menjelang pertemuan OPEC dan sekutunya pada 15 Juli mendatang.

Lita Alisyahbana
Latest posts by Lita Alisyahbana (see all)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top