Finansial

Tentang Redenominasi Rupiah, RI Akan Bernasib Seperti Turki atau Zimbabwe?

Wacana mengenai penyederhanaan nilai rupiah atau redenominasi kini kembali muncul. Hal ini masuk dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2020-2024.

Seperti yang sudah diketahui, redenominasi adalah penyederhanaan dan penyetaraan nilai uang. Dalam kajian oleh Bank Indonesia (BI) dijelaskan, bahwa hal ini bukanlah sanering atau pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Dengan kata lain, redenominasi akan membuat nominal rupiah menjadi lebih sederhana. Nantinya Rp 1.000 akan diubah menjadi Rp 1. Mengenai redenominasi mata uang, dalam prakteknya ada negara yang berhasil, tapi juga ada negara yang justru gagal total.

Turki adalah contoh negara yang berhasil dalam praktek redenominasi. Pemerintahan Turki pada tahun 2003, mengesahkan UU redenominasi yang isinya menghapus enam nol di mata uang Lira. Turki butuh waktu selama dua tahun untuk memberlakukan kebijakan tersebut sejak UU mengenai redenominasi disahkan di tahun 2003.

Profesor Sungkyunkwan University, Jeffey Kim, menyatakan bahwa ada 4 hasil positif dari redenominasi yang dilakukan oleh Turki. Pertama, kredibilitas mata uang meningkat. Kedua, penyusunan laporan keuangan menjadi lebih sederhana. Ketiga, nilai nominal mata uang Lira dapat disandingkan dengan mata uang lainnya. Terakhir, penyederhanaan harga mata uang mampu mengangkat ekspektasi inflasi.

Jika Turki berhasil dengan redenominasi, hal berbeda terjadi pada Zimbabwe. Negara ini justru gagal total dan bahkan membuat dolar Zimbabwe punah. Untuk informasi, Zimbabwe melakukan tiga kali redenominasi, yakni pada tahun 2006, 2008, dan 2009.

Tentang Redenominasi Rupiah, RI Akan Bernasib Seperti Turki atau Zimbabwe?

Tentang Redenominasi Rupiah, RI Akan Bernasib Seperti Turki atau Zimbabwe?

Pada redenominasi yang pertama, harga dolar negara itu dipotong tiga digit. Sehingga uang ZWN 1.000 berubah menjadi ZWN 1. Namun karena uang dicetak dengan tanpa batas, menjadikan uang yang beredar tidak terkendali. Hasilnya, Zimbabwe alami inflasi yang tinggi. Ketika tahun 2017, negara tersebut pernah alami inflasi hingga 1.000 persen.

Pada redenominasi yang kedua, dolar Zimbabwe alami perubahan kode menjadi ZWR dari yang semula ZWN. Namun pada redenominasi kali itu, tetap saja tidak mengubah dolar negara tersebut menjadi uang yang berharga.

Nasib yang sama juga terjadi pada redenominasi yang ketiga. Uang yang beredar terlalu banyak sehingga membuat Zimbabwe alami inflasi hingga 250.000 persen pada 2008 yang silam. Hal ini karena ekonomi negara tersebut sudah menggunakan dolar AS sebagai mata uang yang sah.

Negara yang beribu kota di Harare itu akhirnya pasrah. Bank sentral negara itu pada tahun 2014 menyatakan bahwa dolar AS, rand Afrika Selatan, pula Botswana, poundsterling Inggris, euro, dolar Australia, yuan China, rupee India, hingga yen Jepang adalah alat pembayaran yang sah. Hingga di pertengahan tahun berikutnya, bank sentral Zimbabwe resmi menjadikan dolar AS sebagai mata uang utama, dan meniadakan dolar Zimbabwe.

Namun meski rencana redenominasi nilai rupiah dalam bahasan, Bank Indonesia (BI) belum akan menerapkan proses tersebut dalam waktu yang dekat. Karena BI menyadari bahwa proses tersebut membutuhkan komitmen nasional serta waktu dan persiapan yang cukup panjang. Hasil dari kajian yang dilakukan akan diserahkan kepada pihak-pihak terkait agar menjadi komitmen nasional.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top