Saham

Window Dressing Saham: Pengertian, Cara Kerja, dan Dampak Bagi Investor

Window Dressing Saham: Pengertian, Cara Kerja, dan Dampak Bagi Investor

Window Dressing Saham: Pengertian, Cara Kerja, dan Dampak Bagi Investor

Ada banyak hal yang harus Anda pahami sebelum terjun ke dunia investasi saham, salah satunya adalah memahami istilah window dressing saham. Seperti yang diketahui, dalam mencoba keberuntungan dalam pasar saham tentu tak hanya cukup dengan bermodal nekat semata. Selain menyiapkan dana yang cukup, tentu Anda juga harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai istilah-istilah saham.

Lantas, apa yang dimaksud dengan window dressing saham? Bagaimana cara kerjanya? Dan mengapa momen ini kerap ditunggu oleh para investor? Untuk mengetahui secara lebih lengkap, Anda dapat membacanya dalam ulasan kali ini. Berikut penjelasan lengkapnya!

Baca Juga: Trading Forex VS Investasi Saham, Mana yang Lebih Untung?

Pengertian Window Dressing Saham

Mengutip dari Investopedia, dijelaskan bahwa window dressing saham merupakan strategi mempercantik portofolio investasi yang dilakukan perusahaan maupun manajer investasi. Upaya ini dilakukan sebelum dipresentasikan kepada pemegang saham (investor) atau klien.

Dalam artian lain, window dressing adalah aksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk memoles laporan keuangan. Misalnya dengan menunda pembayaran kewajiban atau mencari cara untuk bisa melaporkan pendapatan lebih cepat dari yang seharusnya.

Menariknya, fenomena window dressing saham biasanya terjadi menjelang tutup buku atau pada kuartal akhir. Karena itu, tidak heran jika akhir tahun atau Desember menjadi bulan yang paling dinanti para investor. Mereka berharap mendapatkan profit dari kenaikan sejumlah saham. Meski window dressing saham sering berulang setiap tahun, namun tidak ada yang menjamin fenomena tersebut bakal terjadi kembali pada tahun selanjutnya. Biasanya, window dressing menjadi momentum bagi para investor berburu sejumlah saham.

Baca Juga: Apa Saja Perbedaan Antara Investasi Saham dan Trading Saham?

Cara Kerja

Metode ini biasanya dilakukan perusahaan ketika mengetahui laporan kinerja mereka akan memburuk pada akhir periode. Guna menutupi hal tersebut, perusahaan lalu menjual saham sebelumnya dan menggantikannya dengan saham yang memberikan imbal hasil besar pada jangka pendek. Upaya ini dapat memperbaiki laporan kinerja perusahaan.

Ketika kinerja dari portofolio kinerja investasi tak sesuai dengan yang diharapkan, manajer investasi melakukan window dressing. Yakni dengan menjual saham yang sebelumnya dilaporkan mencetak kerugian lebih besar dan menggantinya dengan saham yang diperkirakan bakal menghasilkan imbal hasil lebih besar dalam jangka pendek. Hal itu untuk memperbaiki kinerja keseluruhan portofolio dari manajer investasi yang bersangkutan.

Fenomena window dressing juga biasa dimanfaatkan dengan cara-cara berikut ini:

1. Mengobral barang-barang modal yang mengalami depresiasi agar total nilai aset seolah bertambah dengan adanya aset baru.

2. Memberikan diskon lebih awal kepada pelanggan agar meraup untung lebih cepat.

3. Memasukkan pembayaran tagihan ke periode selanjutnya.

4. Menunda pengeluaran seperti pembagian laba agar saldo akhir lebih tinggi.

Selain pasar modal, window dressing juga terjadi di berbagai industri. Salah satu contohnya, perusahaan dapat menawarkan produk dengan harga diskon atau mempromosikan penawaran khusus yang meningkatkan penjualan. Upaya promosi ini berupaya meningkatkan laba di hari-hari terakhir periode pelaporan keuangan.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Buruk dalam Investasi Saham yang Harus Dihindari

Dampak Window Dressing Bagi Investor

Bagi investor, window dressing memberikan alasan bagus untuk memantau laporan kinerja saham yang dimiliki dengan cermat. Beberapa manajer investasi mungkin mencoba meningkatkan pengembalian melalui window dressing. Ini artinya investor harus berhati-hati terhadap kepemilikan karena angka yang tercatat mungkin tidak sejalan dengan strategi dana secara keseluruhan.

Laporan kinerja atau portofolio umumnya digunakan investor guna menentukan langkah selanjutnya dalam kegiatan pembiayaan yang dilakukan. Selain untuk menentukan perpanjangan penanaman modal, dari laporan tersebut juga dapat diketahui return maupun potensi return pada masa mendatang.

Sayangnya, dengan adanya window dressing, keputusan investor tidak akan seakurat jika dibandingkan dengan laporan kinerja asli. Dalam hal ini, investor harus lebih cermat dan kritis dalam membaca laporan kinerja atau portofolio apalagi ketika memasuki akhir periode bisnis.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trading Saham di EXNESS
To Top