Finansial

Gagal Bayar Menjadi Ancaman di Tengah Krisis Ekonomi

Lembaga pemeringkat Fitch Rating merasa tertarik untuk ikut menyoroti mengenai masalah yang kini sedang terjadi di Industri keuangan RI. Hal ini adalah berkaitan dengan soal gelombang gagal bayar dari perusahaan-perusahaan Indonesia.

Fitch dalam riset terbarunya di beberapa waktu lalu mengatakan, risiko gagal bayar justru banyak terjadi di industri keuangan non bank (IKNB). Dalam laporannya, Fitch menulis, “Kegagalan terkait tata kelola telah menghasilkan kerugian mencapai angka USD 3,5 miliar bagi investor sejak tahun 2018”.

Tidak hanya itu, dalam laporan yang sama, Fitch juga menyatakan, “Serangkaian kasus gagal bayar baru-baru ini akibat kegagalan tata kelola perusahaan di industri keuangan di Indonesia”.

Kerugian dengan angka yang mencapai hingga USD 3,5 miliar bagi investor sejak dua tahun lalu itu, tidak hanya dipengaruhi oleh kurang baiknya tata kelola perusahaan. Hal ini juga diperparah oleh pandemi virus corona yang mengguncang ekonomi nasional.

Dalam catatan Fitch selanjutnya, beberapa kasus mengenai gagal bayar datang dari IKNB karena lembaga yang memiliki kantor pusat di New York dan London itu meyakini, meski ada beberapa penguatan regulasi dan pengawasan dalam beberapa tahun terakhir namun industri tersebut tidak diatur secara ketat.

Gagal Bayar Menjadi Ancaman di Tengah Krisis Ekonomi

Gagal Bayar Menjadi Ancaman di Tengah Krisis Ekonomi

Kasus tentang gagal bayar yang menjadi sorotan publik diantaranya, kasus dugaan korupsi perusahaan asuransi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Sebagai tambahan informasi, perusahaan milik negara tersebut gagal bayar pada Oktober 2018 dengan perkiraan simpanan senilai US$ 1,2 miliar.

Hal ini tak berselang lama setelah PT Sunprima Nusantara Pembiayaan, perusahaan pembiayaan yang dituduh melaporkan piutang fiktif dan gagal membayar utang dengan total sekitar US$ 300 juta. Kejadian yang sama juga terjadi pada Koperasi Simpan Pinjam Indosurya Cipta (Koperasi Indosurya) senilai US$ 1 miliar.

Ekonomi Indonesia memang sedang alami tekanan imbas dari virus corona. Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) juga beberapa kali membahas mengenai hal ini, khususnya ekonomi dan kesehatan.

Saat memberi arahan untuk penanganan Covid-19 di Jawa Tengah beberapa waktu lalu, Jokowi mengatakan, “Saya titip yang kita hadapi ini bukan urusan krisis kesehatan saja, tapi juga masalah ekonomi. Krisis ekonomi”.

Ia melanjutkan, “Ekonomi bagus tapi Covid naik. Bukan itu yang kita inginkan. Covid terkendali, tapi ekonomi juga tidak mengganggu kesejahteraan masyarakat. Tapi ini bukan barang yang mudah. Semua negara alami”.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top