Finansial

Jokowi Pilih Pembatasan Sosial Skala Besar, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Wabah virus Covid-19 masih menghantui sektor ekonomi di banyak negara. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memprediksi bahwa akan terjadi resesi ekonomi. Beberapa negara sudah melakukan lockdown sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Meski desakan lockdown masih menjadi pembicaraan yang ramai di lini masa Indonesia, tapi Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memilih untuk melakukan pembatasan sosial skala besar.

Yang dimaksud dengan pembatasan sosial berskala besar yaitu, pembatasan kegiatan tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit. Kebijakan ini sendiri meliputi beberapa poin, diantaranya adalah pembatasan kegiatan di tempat umum bahkan meliburkan sekolah dan aktivitas bekerja.

Josua Pardede -Kepala Ekonom Bank Permata- menjelaskan, bahwa selain mempertimbangkan ekonomi pemerintah juga dinilai mempertimbangkan sosial budaya masyarakat Indonesia yang tidak terbiasa dengan karantina. Sebagai contoh adalah banyaknya pekerja masyarakat Indonesia yang bekerja di sektor informal.

Jokowi Pilih Pembatasan Sosial Skala Besar, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Jokowi Pilih Pembatasan Sosial Skala Besar, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Meski begitu, kebijakan ini dianggap memberikan ketidakpastian yang bisa lebih lama terhadap ekonomi. Karena kebijakan yang dipilih oleh pemerintah saat ini, dinilai kurang efektif untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Josua juga menambahkan, bahwa persiapan pemerintahan dirasa belum cukup untuk sampai pada keputusan lockdown. Di mana kebijakan lockdown justru bisa menyebabkan kekacauan seperti di India.

Ia mencontohkan, soal insentif pemerintah tentang pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang belum terealisasi. Menurutnya, sebelum melakukan lockdown seharusnya bantuan tersebut harus sudah sampai di tangan masyarakat yang membutuhkan. Tapi tentang dampak positifnya, Josua mengatakan bahwa penurunan aktivitas ekonomi tidak setajam kalau lockdown. Dalam jangka pendek dropnya tidak terlalu drastis dibanding kalau lockdown total.

Dalam kesempatan lain, Mohammad Faisal -Pengamat Ekonomi dari Center of Reform on Economics Indonesia (CORE)- menilai bahwa keputusan ini dapat memberikan dampak ekonomi yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan opsi lockdown.

Faisal menambahkan, pemerintah masih ragu menghadapi konsekuensinya jika harus lockdown. Ia menjelaskan, kalau lockdwon ada penurunan ekonomi yang lebih drastis dan banyak pihak yang harus kehilangan mata pencaharian. Kondisi ini menuntut pemerintah untuk memberikan stimulus lebih dan membutuhkan persiapan infrastruktur sampai dengan aparat untuk menegakkan pembatasan lockdown tersebut.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top