Bisnis

Kasus Corona AS-China Melonjak, Harga Minyak Rontok

Jumlah kasus infeksi virus corona di Amerika Serikat (AS) dan China alami lonjakan, hal ini berimbas pada penurunan harga minyak dunia. Pada akhir pekan lalu harga minyak mentah dunia alami kerontokan.

Untuk informasi, pada perdagangan di hari Kamis (25/6/2020) yang lalu, harga minyak sempat ditutup pada teritori yang cukup positif. Situasi ini karena didukung oleh membaiknya ekonomi di negara Donald Trump itu, dan juga dipengaruhi oleh kenaikan permintaan bahan bakar minyak di negara tersebut.

Pada Kamis pekan lalu itu harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk pengiriman bulan Agustus tercatat alami kenaikan 74 sen atau 1,8 persen menjadi US$ 41,05 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, untuk harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman pada bulan yang sama, yaitu bulan Agustus, alami kenaikan hingga 71 sen atau sebesar 1,9 persen menjadi US$ 38,72 per barel di New York Mercantile Exchange.

Dikabarkan oleh Antara pada hari Senin (29/6/2020) ini, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk pengiriman dua bulan ke depan alami penurunan sebesar 3 sen menjadi US$ 41,02 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara untuk minyak mentah jenis WTI, untuk pengiriman bulan Agustus esok juga alami penurunan sebesar 23 sen atau 1,6 persen dan menjadi US$ 38,49 per barel di New York Mercantile Exchange.

Kasus Corona AS-China Melonjak, Harga Minyak Rontok

Kasus Corona AS-China Melonjak, Harga Minyak Rontok

Seperti yang diberitakan sebelumnya, harga minyak juga sempat alami kejatuhan karena faktor dari pasar yang khawatir akan terjadinya gelombang kedua virus corona.

Lonjakan kasus baru Covid-19 yang terjadi di Amerika Serikat pada awal bulan ini membuat pasar sempat alami guncangan. Tidak hanya itu, China yang dianggap sebagai asal muasal wabah penyakit tersebut juga kembali melaporkan mengenai kasus baru setelah sebelumnya sempat mengumumkan keberhasilan untuk menghentikan penyebaran.

Greg Abbot -Gubernur Texas- mengatakan bahwa pihaknya membatalkan rencana pelonggaran pembatasan di negara bagian tersebut. Sebagai akibat dari Texas yang mengalami lonjakan kasus virus corona, Greg memerintahkan untuk sebagian besar bar kembali ditutup.

Keputusan ini disebut dapat berpengaruh terhadap produksi penyulingan minyak di Negeri Paman Sam itu. Mengutip data dari pemerintah AS, menunjukkan bahwa jumlah penyulingan yang beroperasi saat ini hanya terdapat 75 persen dari total kapasitas yang ada.

Andrew Lipow -Presiden Lipow Oil Associates- menuturkan, “Pengusaha-pengusaha menunda karyawan mereka kembali ke kantor dan hal itu akan berdampak pada kembalinya permintaan bensin”.

Jika merujuk pada faktor-faktor lain, prospek ekonomi global dinilai akan memburuk dari perkiraan sebelumnya. Mayoritas ekonom memproyeksi bahwa resesi global bisa lebih dalam dari perkiraan sebelumnya.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top