Saham

Memahami Istilah Auto Reject, ARA, dan ARB pada Saham

Untuk diketahui, dalam mencoba keberuntungan dalam pasar saham selain menyiapkan dana yang cukup, tentu juga dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas mengenai istilah-istilah dalam dunia saham. Karena pada dasarnya, pengetahuan yang mumpuni adalah salah satu faktor yang menjadi kunci dalam investasi saham.

Terdapat banyak istilah dalam dunia trading saham saat ini. Dapat dikatakan, istilah-istilah tersebut adalah menjadi sebuah langkah awal untuk investor pemula yang ingin menguasai lebih dalam investasi ini. Pada kesempatan kali ini, kami akan mengajak Anda membahas 3 istilah pada dunia saham. Ketiga istilah ini memang sering terdengar, tapi jarang dibahas. Ketiga istilah tersebut adalah Auto Rejection, ARA dan ARB. Mari kita ulas satu per satu istilah tersebut!

Pengertian Auto Rejection:

Auto Rejection adalah batasan minimum dan maksimum suatu kenaikan dan penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan bursa. Mekanisme auto rejection ini diberlakukan untuk melindungi investor dari fluktuasi harga saham yang terlalu tinggi.

Memahami Istilah Auto Reject, ARA, dan ARB pada Saham

Memahami Istilah Auto Reject, ARA, dan ARB pada Saham

Pengertian ARA

Istilah ARA memiliki kepanjangan, yakni Auto Reject Atas. ARA sendiri memiliki pengertian yaitu batasan maksimum kenaikan harga sebuah saham dalam satu hari. Batas kenaikan harga tersebut dinyatakan dalam persentase. Sistem auto rejection sendiri telah diatur dalam Jakarta Automated Trading System (JATS) NEXT-G.

Dalam sistemnya, JATS NEXT-G akan menangani setiap permintaan jual atau beli saham. Hanya saja, ketika saham mencapai harga pada titik tertentu, sistem akan melakukan penolakan secara otomatis. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah auto rejection. ARA adalah istilah ketika harga jual saham melebihi batas atas yang telah ditetapkan.

BEI telah menentukan batasan ARA sesuai dengan Keputusan Direksi Nomor Kep-00023/BEI/03-2020. Besaran ARA tergantung pada harga acuan saham yang telah dimasukkan anggota bursa di dalam sistem JATS NEXT-G tersebut. Untuk harga acuan Rp 50 sampai dengan Rp 200, ARA terjadi bila kenaikan harga saham di atas 35%, untuk harga Rp 200 sampai dengan Rp 5.000 sebesar 25%, dan untuk harga di atas Rp 5.000 adalah sebesar 20%.

Pengertian ARB

Dalam pengertian sederhananya, ARB adalah kebalikan dari ARA. ARB adalah Auto Reject Bawah atau batas maksimal penurunan harga saham. Penggunaannya adalah untuk menentukan batas minimum penurunan harga sebuah saham. Ketika nilai saham sudah mencapai ARB, sistem akan melakukan penolakan untuk semua order pembelian.

Namun, koreksi pasar saham besar-besaran karena pandemi virus corona pada Maret 2020 membuat manajemen BEI mengubah ketentuan ARB menjadi 10% dari sebelumnya sebesar 20%-35%. Namun, ARB sebesar 10% ternyata tidak cukup. BEI kembali mengubah batas ARB menjadi 7%.

Ketentuan ARB sesuai dengan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00023/BEI/03-2020 yakni Rp 50 atau kurang dari 7 persen untuk harga acuan Rp 50 sampai dengan Rp 200 dan untuk harga di atas Rp 200 sebesar 7 persen.

Manfaat ARB dan ARA pada Saham

Penetapan ARA dan ARB oleh BEI bertujuan untuk menjaga agar pergerakan saham dalam satu hari tidak terlalu ekstrem. ARA digunakan untuk memastikan bahwa kenaikan harga saham tidak terlalu tinggi. Sementara itu, ARB diterapkan dengan tujuan agar harga saham tidak jatuh ke terlalu rendah.

Itulah ulasan singkat mengenai istilah dalam dunia saham. Setelah membaca hingga tuntas artikel ini, kami harap Anda mendapat sejumlah ilmu yang bermanfaat.

Semoga menginspirasi!

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trading Saham di EXNESS
To Top