Finansial

Tentang Skandal Emas Terbesar dalam Sejarah, Ada Emas Palsu China!

Negara China lagi-lagi mencuri perhatian. Sebelumnya, negara berjuluk tirai bambu itu dituduh sebagai sumber malapetaka virus corona yang menyebabkan ancaman resesi ekonomi global. Dan kini, muncul kembali kabar mengenai negeri itu yang tidak kalah heboh.

Kabar yang tidak kalah menghebohkan tentang negara yang dipimpin oleh Xi Jinping itu adalah mengenai ditemukannya skandal pemalsuan emas terbesar dalam sejarah, bahwa cadangan emas resmi di negara itu dengan lebih dari 4 persen kemungkinan adalah palsu.

Pada bulan Juni, perusahaan Wuhan Kingold Jewerly Inc menyimpan 83 ton emas murni yang disinyalir palsu. Padahal jumlah emas tersebut digunakan untuk mendukung 16 miliar yuan pinjaman atau setara dengan 22 persen produksi emas tahunan dan 4,2 persen dari cadangan emas China pada tahun 2019. Angka tersebut jika dihitung dengan kurs rupiah maka ditemukan jumlah yang spektakuler, yaitu Rp 32,2 triliun.

Kingold yang sahamnya terdaftar di bursa saham Nasdaq di New York, adalah perusahaan pemroses emas swasta terbesar di provinsi Hubei, China Tengah. Jia Zhihong adalah pemimpin perusahaan tersebut. Ia adalah mantan militer yang mengintimidasi dan juga merupakan pengendali para pemegang saham. Jia Zhihong sendiri diketahui diizinkan untuk melakukan apapun yang diinginkannya, tanpa pertanyaan, termasuk soal pemalsuan.

Tentang Skandal Emas Terbesar dalam Sejarah, Ada Emas Palsu China!

Tentang Skandal Emas Terbesar dalam Sejarah, Ada Emas Palsu China!

Cerita bermula dari 5 tahun terakhir terdapat lebih dari selusin lembaga keuangan China yang meminjamkan 20 miliar yuan atau setara dengan Rp 40,2 triliun ke Kingold, dengan jaminan dan polis asuransi untuk menutup kerugian adalah emas murni. Namun dalam kenyataannya, emas-emas yang digunakan sebagai agunan ternyata bukan emas asli, tetapi adalah tembaga yang berlapis emas.

Soal kasus emas palsu ini mulai terungkap ketika perusahaan Dongguan Trust Co Ltd melakukan likuidasi agunan Kingold untuk menutupi utang yang gagal bayar pada bulan Februari lalu. Dalam laporannya, pada akhir tahun 2019, perusahaan Kingold gagal membayar investor dalam beberapa produk kepercayaan.

Perusahaan Minsheng Trust, Dongguan Trust, dan kreditor kecil Chang’An Trust pada awal bulan Juni mengajukan tuntutan hukum terhadap yang bersangkutan dan menuntut PICC Property and Casualty Limited (PICC P&C) untuk menutupi sejumlah kerugian mereka.

Sebagai tambahan informasi, PICC P&C Limited merupakan sebuah perusahaan yang berdiri pada tahun 2003 yang silam, dan perusahaan ini bergerak pada bidang asuransi non-jiwa yang terbesar di China daratan.

Mengutip laporan dari media Caixin, pihak PICC P&C menolak mengomentari untuk masalah ini, namun mereka mengatakan bahwa kasus ini dalam prosedur pengadilan. Tetapi menurut sumber PICC P&C, prosedur klaim harus diinisiatif oleh Kingold sebagai pihak tertanggung, bukan lembaga keuangan sebagai penerima manfaat. Namun sayangnya, Kingold belum mengajukan klaim.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top