Finansial

Ekonomi Dunia Terancam Reflasi, Apa Itu?

Ekonomi Dunia Terancam Reflasi, Apa Itu?

Ekonomi Dunia Terancam Reflasi, Apa Itu?

Istilah reflasi menjadi sering terdengar di beberapa waktu belakangan ini. Untuk informasi, dunia kini tengah berhadapan dengan ekonomi yang sulit karena dihantui ketidakpastian. Hal ini juga berimbas pada ekonomi Indonesia, bahkan, saat ini ekonomi dunia sedang terkena ancaman reflasi.

Seperti yang diketahui, ancaman reflasi di Indonesia pertama kali disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Ia menyebut bahwa reflasi global terjadi karena resesi, juga inflasi yang tinggi.

“Ada resiko stagflasi, pertumbuhan stuck turun tapi inflasi tinggi. Bahkan istilahnya reflasi, resiko resesi dan tinggi inflasi”, tuturnya pada hari Senin (21/11/2022) lalu.

Selain itu, Perry juga menyampaikan bahwa tingginya tingkat inflasi pun membuat buat bank sentral di beberapa negara mengerek suku bunga acuan. Bahkan Perry juga memperkirakan era suku bunga tinggi karena berlangsung lama dan berlanjut hingga tahun depan.

Alasannya, inflasi yang bakal tetap melonjak akibat kenaikan harga yang terjadi akibat imbas perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung ada tanda-tanda berakhir. Kenaikan ini utamanya terjadi di bank sentral AS The Fed. Kenaikan bunga ini bahkan diprediksi banyak pelaku baru bisa kembali turun pada semester II-2023.

Baca Juga: Seberapa Pengaruh Inflasi Terhadap Trading Forex?

Apa Itu Reflasi?

Dikutip dari berbagai sumber, dijelaskan bahwa istilah reflasi merupakan kondisi di mana tingkat resesi serta angka inflasi yang sama-sama tinggi. Mengulang penjelasan di atas, istilah ini disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warijiyo. Yakni satu kondisi yang menggambarkan keadaan ekonomi yang mengalami resesi dan inflasi yang tinggi secara bersamaan.

Salah satu dampak buruk dari kondisi ini, kata Perry, adalah meningkatnya suku bunga acuan bank sentral di berbagai negara. Kenaikan suku bunga dan inflasi tinggi diprediksi akan terus kejar-kejaran. Jika kondisi ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, maka kemungkinan kondisi stagflasi akan terjadi yaitu situasi dimana pertumbuhan ekonomi melambat dan bahkan cenderung turun namun inflasinya tinggi.

Menurut Perry, kenaikan suku bunga yang agresif secara global pun belum tentu langsung berdampak pada penurunan inflasi yang lebih disebabkan oleh sisi supply saat ini. Kondisi ini semakin menambah ketidakpastian bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Begitu juga dengan bank sentral Eropa yang diperkirakan bakal terus melanjutkan era suku bunga tinggi. Pasalnya, inflasi di Eropa mencapai 10 persen dan di Inggris mendekati 11 persen pada Oktober 2022.

Lonjakan inflasi inilah yang membuat kebijakan banyak bank sentral makin hawkish. Kondisi ini membuat makin banyak negara diperkirakan jatuh ke lubang resesi di tahun depan.

“Sehingga kejar-kejaran antara menaikkan suku bunga dan inflasi tinggi ini yang kenapa disebut risiko stagflasi, pertumbuhan yang stagnan atau cenderung menurun”, kata Perry.

Baca Juga: Mengapa Suku Bunga Berpengaruh pada Trading Forex?

Bagaimana Antisipasi Bank Indonesia?

Terkait dengan ancaman reflasi ini, BI pun telah menetapkan 5 arah kebijakan untuk mengantisipasi berlanjutnya gejolak global pada tahun depan. Pertama, BI akan memperkuat framework dan respons bauran kebijakan, sehingga simulasi dan respons kebijakan BI dapat terkalibrasi dengan baik.

Kedua, peningkatan kapabilitas BI sebagai bank sentral digital, khususnya rencana untuk penerbitan digital rupiah. Juga kelanjutan digitalisasi sistem pembayaran dalam, maupun yang berkaitan dengan kerja sama internasional.

Ketiga, BI akan melakukan implementasi digitalisasi business process re-engineering. Keempat penguatan tata kelola yang disertai dengan manajemen risiko. Dan yang kelima adalah BI akan mulai melakukan persiapan perpindahan ke Ibu Kota Negara Nusantara, termasuk persiapan dari aspek hukum, organisasi, proses kerja, SDM, hingga penyediaan sarana dan prasarana.

“BI termasuk yang pindah pertama. Karena itu kami sudah pada tahap terakhir penyesuaian konseptual desain, kami juga akan koordinasi dengan pemerintah selaras dengan tahapan pemindahan sesuai roadmap”, ungkapnya.

Baca Juga: 3 Indikator Makro Ekonomi Penting pada Trading Forex

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trading Saham di EXNESS
To Top