Crypto

Pasar Sedang Lesu, Penambang Kripto Jual Aset

Pasar Sedang Lesu, Penambang Kripto Jual Aset

Pasar Sedang Lesu, Penambang Kripto Jual Aset

Nasib penambang kripto kini sedang terancam, hal ini imbas dari pasar yang sedang lesu. Lantas, bagaimana prospek penambang kripto kedepannya?

Untuk informasi, harga Bitcoin (BTC) gagal mempertahankan reli dalam tiga hari terakhir, dan kembali ke level US$ 20.000 pada Rabu (22/6/2022) kemarin. Meski pada minggu ini merupakan momen yang bagus untuk pasar kripto. Tetapi, investor tidak ingin terlalu banyak berharap untuk rebound jangka panjang.

Jika melihat pada data dari Coinmarket pada hari Rabu sore, harga BTC berada di US$ 20.152,61 atau turun 5,38% dalam 24 jam terakhir. Tapi, angka itu masih jauh dari level terendah dalam dua tahun terakhir di bawah US$ 18.000 yang tercipta pada Sabtu (18/6/2022) pekan lalu.

Baca Juga: Memahami Bitcoin Mining: Pengertian dan Perangkat yang Digunakan

Namun, para analis pesimistis dengan daya tahan reli Bitcoin. Dan mencatat kenaikan volatilitas yang mungkin terkait dengan investor besar yang membeli penurunan harga baru-baru ini. Juga kelanjutan dari kondisi yang mendasarinya, termasuk turbulensi global, kenaikan harga, dan tekanan resesi yang telah menjangkiti pasar kripto untuk masa depan.

Penambang Kripto Pilih Menjual Aset

Ketakutan para investor akan ancaman bear market telah membuat para penambang kripto Bitcoin memilih untuk menutup akun. Dan menjual kepemilikan koin BTC demi mengurangi biaya operasional.

Penambang Bitcoin raksasa di Kanada, Bitfarms, misalnya. Yang mengumumkan pada hari Selasa (21/6/2022) lalu, bahwa mereka terpaksa menjual hampir 50% cadangan BTC atau setara 3.000 BTC selama sepekan terakhir. Hal ini merupakan dampak dari lesunya pasar kripto yang parah.

Sebelumnya, penambang di AS melakukan hal serupa dengan penjualan sebanyak 4.411 BTC sepanjang Mei 2022. Serangkaian kasus di industri kripto tampak membuat ini semakin merana, seperti kasus jatuhnya ekosistem Terra. Juga penghentian layanan dari Celsius Network dan rumor bangkrutnya perusahaan hedge fund kripto terbesar, Three Arrows Capital (3AC).

Baca Juga: Benarkah PHK di Exchange Crypto Karena Harga Hancur?

Tidak itu saja, dilansir dari News Bictoin, penurunan harga ini terjadi karena adanya aksi panic selling. Sehingga membuat munculnya gelombang jual di pasar kripto. Tercatat dalam beberapa hari terakhir setidaknya ada 88.000 BTC yang dijual penambang dalam sehari.

Untuk informasi, berdasarkan data dari Cambridge, penambangan BTC asal AS adalah yang terbesar saat ini sedunia (mendominasi 37,84%) Sementara itu, penambang di kawasan Kanada hanya berada pada 6,4%.

The Fed Jadi Penyebab Rontoknya Pasar Kripto?

Pasar cryptocurrency anjlok di beberapa waktu terakhir. Dan terkait hal ini, CEO dari salah satu pertukaran kripto teratas, FTX Sam Bankman-Fried mengklaim Federal Reserve (The Fed) AS yang harus disalahkan.

Menurut Bankman-Fried, sikap agresif The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam upaya memerangi inflasi yang berlebihan telah menghasilkan “kalibrasi ulang” ekspektasi risiko.

Bankman-Fried mengakui kesulitan tugas bank sentral, dengan mengatakan itu “terjebak di antara batu dan tempat yang sulit”. Namun, dia menyatakan keputusan The Fed selama beberapa bulan mendatang akan berdampak signifikan pada perusahaannya.

Baca Juga: Bagaimana Nasib Penambang Jika Bitcoin Habis?

Seperti yang diketahui, The Fed menaikkan suku bunganya sebesar 75 basis poin (bps) atau 0,75 poin persentase kenaikan terbesar sejak 1994. Juga memperingatkan kenaikan suku bunga yang besar akan menyusul di bulan-bulan mendatang karena bertujuan untuk mengurangi kenaikan inflasi. Namun, ini akan meningkatkan kemungkinan resesi juga.

Dikutip dari The Economic Times hari Rabu (22/6/2022), Bankman mengatakan, “Pendorong inti dari ini adalah The Fed,”.

“Secara harfiah, pasar takut dan orang-orang dengan uang akan takut”, katanya lagi.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top