Bisnis

Trump Bertekad Ingin Ambil Alih Kekuatan Manufaktur China

Donald Trump -Presiden Amerika Serikat (AS)- diliputi rasa khawatir dan menuduh China telah membuat kesalahan besar soal wabah virus corona sehingga menyebar luas dan memporak porandakan ekonomi secara global. Pemimpin negara adi daya tersebut pun kini sedang memutar otak tentang hukuman baru untuk China. Tidak hanya soal tarif, ia kini juga sedang menyiapkan sesuatu hal yang lain.

Trump memang sudah terkenal dengan melakukan gebrakan yang fenomenal. Salah satunya adalah perang dengan mitra dagangnya sendiri, China. Sejak bulan Maret 2018, Trump sudah menerapkan bea masuk impor terhadap negeri tirai bambu tersebut.

Tapi seperti yang sudah dapat dilihat, setelah perang tarif, kedua negara itu sepakat untuk melakukan gencatan senjata pada pertengahan bulan pertama di tahun lalu. Ada satu hari dimana menjadi hari yang bersejarah bagi hubungan antara Washington dan Beijing. Yaitu tanggal 15 Januari 2020, dimana kesepakatan dagang fase awal ditandatangai kedua negara itu dengan sah.

Kedua negara tersebut berupaya untuk terus memperbaiki hubungan dan mengupayakan kesepakatan fase dua yang lebih berfokus ke isu-isu utama agar bisa dieksekusi di tahun ini.

Trump Bertekad Ingin Ambil Alih Kekuatan Manufaktur China

Trump Bertekad Ingin Ambil Alih Kekuatan Manufaktur China

Tapi, dalam sekian rentang waktu setelah itu segalanya menjadi berubah. Kesepakatan dagang fase dua antara dua negara justru terancam batal. Trump mengatakan bahwa pembicaraan mengenai dagang bukanlah menjadi hal penting untuknya di saat ini. Ia justru memilih untuk memusuhi China atas penanganan virus corona dengan saling menyalahkan soal asal muasal wabah penyakit ini.

Mengutip dari Reuters, Trump mengatakan, “Kami menandatangani kesepakatan perdagangan di mana mereka seharusnya membeli, dan mereka sebenarnya telah membeli banyak. Namun sekarang itu menjadi prioritas kedua akibat virus ini”.

Seperti yang diberitakan, AS terserang wabah ini dan menjadi episentrum baru dengan jumlah kasus mencapai angka lebih dari 1 juta. Situasi ini membuat negara adi daya itu menetapkan lockdown di berbagai negara bagian. Hal ini yang mengakibatkan ekonomi AS menjadi carut marut. Seminggu pertama setelah lockdown diterapkan pada 19 Maret 2020, sudah ada jutaan warga AS yang mendaftar klaim asuransi untuk tunjangan pengangguran.

Kondisi ini mengakibatkan ekonomi negara tersebut mengalami minus 4,8 persen di kuartal I tahun 2020. Angka ini adalah kontraksi terburuk dibanding ketika krisis keuangan global saat tahun 2008 yang lalu. Hal inilah yang memancing emosi Trump. Ia menyalahkan China sebagai sumber dari malapetaka yang dialami negaranya tersebut. Kini AS berencana untuk menantang China sebagai Global Manufacturing Hub dengan menyiapkan rencana untuk menghapus rantai pasok global yang berasal dari China dan bertekad untuk meruntuhkan kedigdayaan negeri tirai bambu itu.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top