Crypto

Bursa Kripto Binance Diretas, Penarikan Dana Dihentikan!

Bursa Kripto Binance Diretas, Penarikan Dana Dihentikan!

Bursa Kripto Binance Diretas, Penarikan Dana Dihentikan!

Dalam kabar yang terbaru, bursa kripto Binance alami peretasan. Laporan terkait kejadian ini, langsung diumumkan oleh Changpeng Zhao selaku Chief Executive Offiver pada hari Jumat (2/12/2022) kemarin. Pada penjelasannya, Zhao mengatakan jika operator Web 3 Binance untuk jaringan proof-of-stake yakni Ankr telah diserang saat melakukan pembaruan pada smart contract di Jumat siang.

Sebagai informasi Ankr merupakan operator node terdistribusi untuk jaringan proof-of-stake. Yang memungkinkan pengguna untuk menukarkan token mereka dengan uang konvensional, tanpa harus membeli perangkat keras yang diperlukan.

Mengutip Reuters, Zhao mengatakan, “Analisis awal adalah kunci pribadi pengembang diretas. Dan hacker memperbarui smart contract menjadi lebih jahat”.

Coindesk melaporkan Ankr mengalami serangan akibat bug dalam kodenya. Dengan begitu membuat token bisa dicetak tanpa batas. Zhao juga menjelaskan bahwa akibat kejadian ini, pihaknya telah menghentikan penarikan dan juga membekukan US$ juta atau sekitar Rp 46,2 miliar.

Spesialis keamanan Blockchain PeckShiel menjelaskan bahwa para hacker memanfaatkan sistem operasi Binance yang lemah, untuk membobol kode keamanan Ankr dengan mengeksploitasi software bug. Sehingga mereka dapat mencetak token kripto yang tersimpan dalam layanan tersebut dalam jumlah besar dan tanpa batas.

Baca Juga: Marak Pencurian Kripto, Apa yang Perlu Dilakukan oleh Investor?

Bukan yang Pertama Dialami Bursa Kripto Binance

Sebelumnya, sekitar pada Kamis (6/10/2022) lalu, Binance juga alami hal yang sama. Saat kejadian itu, token kripto senilai US$ 570 juta atau sekitar Rp 8,7 triliun dilaporkan dicuri. Ketika peristiwa tersebut, Binance sempat menangguhkan jaringan Blockchain-nya, BNB Smart Chain, “karena aktivitas yang tidak biasa”.

Perusahaan mengatakan pada hari Jumat bahwa peretas telah mencuri 2 juta token cryptocurrency BNB-yang dikeluarkan oleh Binance-. Dan sempat offline selama 9 jam, lalu jaringan BNB sudah pulih pada hari berikutnya. Sang CEO awalnya men-tweet bahwa crypto senilai US$ 100 juta telah dicuri. “Dana Anda aman. Kami minta maaf atas ketidaknyamanannya”, tweet Zhao pada Kamis malam.

Untuk melakukan pencurian, para peretas menargetkan apa yang disebut jembatan lintas rantai (cross-chain bridge). Infrastruktur yang memungkinkan pengguna untuk bertukar aset kripto di antara berbagai Blockchain ini telah menjadi target peretas dalam beberapa bulan terakhir.

Dugaan peretasan di platform Binance terjadi setelah Tether menyatakan sebuah dompet kripto yang ada di dalam daftar hitam mereka menerima 2 juta token BNB. Rumor bahwa transaksi tersebut terkait peretasan, belum bisa dikonfirmasi. Namun, karena dompet kripto penerima “0x489A…” masuk dalam daftar hitam Tether, ada dugaan kuat transaksi ini merupakan tindak kejahatan.

Baca Juga: Apa Perbedaan Antara Holochain dan Blockchain?

Pencurian Kripto Sepanjang 2022 Telah Capai Rp 28 Triliun

Bukan menjadi rahasia lagi, jika kasus pencurian aset kripto sering terjadi dan menyita perhatian publik. Sekadar informasi, kasus-kasus peretasan telah lama menerpa perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor kripto dengan menargetkan sistem jembatan Blockchain.

Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan analisis Blockchain, Chainalysis pada hari Selasa (16/8/2022) misalnya. Diungkapkan bahwa kasus pencurian kripto hingga bulan ke tujuh tahun 2022 ini saja sudah senilai USD 1,9 miliar atau sekitar Rp 28 triliun.

Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 60 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Bahkan lonjakan angka kasus tersebut juga terjadi ketika banyak nilai aset cryptocurrency jatuh. Pihak Chainalysis memperingatkan bahwa peningkatan pencurian kripto tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti meski ada penurunan harga di pasar kripto.

“Selama aset kripto yang disimpan di kumpulan protokol DeFi dan layanan lainnya memiliki nilai dan rentan, pelaku jahat akan mencoba mencurinya”, tulis laporan Chainalysis tersebut.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top