Finansial

Harga Menurun di 2 Pekan Terakhir. Tanda-Tanda Emas Akan Drop?

Harga emas mulai kehilangan kemilaunya seiring dengan sejumlah negara melonggarkan kebijakan lockdown. Harga emas telah turun dari level tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Dalam periode tahun berjalan, harga emas telah naik lebih dari 12 persen, ditopang suku bunga yang rendah dan ketidakpastian politik dan ekonomi global. Emas, logam mulia yang tergolong aset aman sering digunakan untuk melindungi aset dari pengaruh suku bunga rendah dan risiko kerugian.

Pada perdagangan hari Rabu (27/5/2020), harga emas dunia melemah melanjutkan hari sebelumnya. Pada pukul 16.32 WIB kemarin, logam mulia ini kembali mendekati US$ 1.700/troy ons. Mengutip data dari Refinitiv, emas diperdagangkan di level US$ 1.704,98/troy ons. Itu artinya harga emas melemah 0,32 persen di pasar spot. Pada hari Selasa sebelumnya, harga emas sudah ambles lebih dari 1 persen.

Jika dilihat secara fundamental, harapan akan ekonomi segera bangkit setelah mulai banyak negara yang memutar kembali roda perekonomian, dan setelah sukses meredam penyebaran pandemi virus corona, membuat emas menjadi tertekan.

Harga Menurun di 2 Pekan Terakhir. Tanda-Tanda Emas Akan Drop?

Harga Menurun di 2 Pekan Terakhir. Tanda-Tanda Emas Akan Drop?

Namun, outlook emas masih bullish untuk jangka panjang. Bank of America (BofA) pada April lalu bahkan memprediksi harga emas akan ke US$ 3.000/US$ dalam 18 bulan ke depan. Analisis dari BofA melihat bahwa perekonomian global yang mengalami resesi, kemudian stimulus fiskal serta peningkatan neraca bank sentral akan membuat pelaku pasar memburu emas sebagai investasi sehingga harganya akan melonjak.

Kebijakan moneter dan fiskal yang dilakukan oleh bank sentral serta pemerintah di berbagai negara membuat Ole Hansen -Kepala Ahli Strategi Komoditas di Saxo Bank- bahkan memprediksi bahwa dalam jangka panjang emas akan di atas US$ 4.000/troy ons.

Pandemi virus corona telah berhasil membuat perekonomian global menuju jurang resesi. Akibatnya bank sentral di berbagai negara menerapkan kebijakan ultra longgar dengan memangkas suku bunga, bahkan menerapkan kebijakan yang tidak biasa (unconventional) seperti program pembelian aset (quantitative easing/QE).

Tidak hanya bank sentral yang mengeluarkan kebijakan. Pemerintah di berbagai negara pun juga menggelontorkan stimulus fiskal untuk menanggulangi dampak dari virus corona guna menyelamatkan ekonomi negara.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
To Top