Sosmed

Terbelit Utang Bisnis Forex, Pegawai KPK Curi Barang Bukti Emas 1,9 Kg

Seorang pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berinisial IGAS mencuri emas yang merupakan barang bukti kasus korupsi. Emas batangan yang dicuri seberat hampir 1,9 kg. Sebagian dari emas batangan itu digadaikan IGAS untuk membayar utang dalam bisnisnya.

Ketua Dewan Pengawas (Dewas) KPK Tumpak H Panggabean mengatakan, bisnis yang digeluti pegawai KPK berinisial IGAS itu terkait forex atau foreign exchange atau pertukaran valuta asing.

“Karena yang bersangkutan memerlukan dana untuk bayar utang-utangnya cukup banyak tersangkut dalam bisnis yang tidak jelas, forex-forex itu”, kata Tumpak.

Ia menjelaskan, IGAS telah menggelapkan barang bukti dari terpidana kasus korupsi mantan pejabat Kementerian Keuangan Yaya Purnomo.

Dari jumlah total emas batangan yang dicuri IGAS. Sebagian emas batangan itu lantas digadaikan yaitu sekitar 1 kg dengan nilai sekitar Rp 900 juta, sedangkan sisanya masih disimpan.

Tumpak menyebut IGAS sebagai anggota satuan tugas di Direktorat Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi (Labuksi) sehingga leluasa mengakses barang bukti itu.

Terbelit Utang Bisnis Forex, Pegawai KPK Curi Barang Bukti Emas 1,9 Kg

Terbelit Utang Bisnis Forex, Pegawai KPK Curi Barang Bukti Emas 1,9 Kg

Dalam konferensi pers daring pada hari Kamis (8/4/2021), Tumpak mengatakan, “Benar bahwa di dalam dua minggu Ini kami lakukan persidangan terhadap pelanggaran kode etik oleh seorang insan KPK yang kebetulan yang bersangkutan sebagai anggota satgas yang ditugaskan menyimpan mengelola barbuk (barang bukti) yang ada pada Direktorat Labuksi yang ada di KPK”.

Ia menjelaskan, pencurian emas ini terjadi awal Januari 2020. Selama beraksi, IGAS tidak mengambil sekaligus, namun bertahap beberapa kali.

Saat akhirnya ketahuan emas yang 900 gram dikembalikan IGAS ke KPK. Sedangkan emas yang sudah digadaikan ditebus kembali oleh IGAS dan dikembalikan ke KPK.

“Pada akhirnya barang bukti ini pada Maret 2021 berhasil ditebus oleh yang bersangkutan dengan cara mendapatkan berhasil menjual tanah warisan orang tuanya di Bali,” ucap Tumpak

Meski sudah dikembalikan, Tumpak mengatakan si pegawai tetap melakukan pelanggaran berat. Dewas KPK dalam sidang putusan memutuskan memecat pegawai dengan tidak hormat. Dewas KPK menganggap IGAS melanggar nilai-nilai komisi antirasuah, seperti integritas dan kejujuran.

Tumpak mengatakan pimpinan KPK juga sudah memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah pidana. Pimpinan, kata dia, telah melaporkan kasus ini ke Polres Jakarta Selatan. “Sidang kami tidak menghapuskan pidana,” kata Tumpak.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top