Finansial

Erdogan Kehabisan Akal Karena Ekonomi Turki di Ujung Tanduk

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tengah kehabisan akal, pasalnya adalah ekonomi Turki kembali berada di ujung tanduk. Seperti yang sudah diketahui, di baru-baru ini negara tersebut mulai pulih dari resesi pertamanya akibat dari pandemi virus corona yang menyerang.

Mengutip dari AFP, Atilla Yesilada -ekonom di thing tank GlobalSource Partners menjelaskan, dengan risiko pengangguran massal, jatuhnya pariwisata, dan mata uang yang tidak stabil, situasinya sangat buruk.

Sebelumnya Erdogan telah meluncurkan paket stimulus pada bulan Maret yang lalu sebelum virus itu menyerang dan menular. Tetapi para kritikus mengatakan bahwa rencana mengucurkan dana senilai US$ 15 miliar itu tidak mencukupi.

Untuk informasi, Turki pernah menerapkan opsi lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona yang menyerang. Aturan ini diterapkan di 30 kota besar di seluruh Turki. Namun aturan tersebut berakhir dengan kericuhan dan kekacauan. Yang terjadi adalah orang-orang berkerumun dan berbondong-bondong untuk memborong makanan dan minuman serta mengabaikan aturan pembatasan sosial.

Akibat dari kekacauan yang terjadi itu, pemerintahan Erdogan dikritik oleh pihak oposisi karena dianggap membahayakan nyawa ribuan orang. Bahkan Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu menyatakan untuk mengundurkan diri.

Mengenai ekonomi Turki di ujung tanduk, para ekonom memperkirakan bahwa resesi kedua ini akan jauh lebih menyakitkan. Beberapa diantaranya mengatakan Erdogan harus mencari bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF). Sementara opsi ini selalu ditolak oleh Erdogan. Turki telah meminta bantuan IMF sebanyak 19 kali, namun bagi Erdogan, langkah seperti itu akan menjadi penghinaan.

Erdogan Kehabisan Akal Karena Ekonomi Turki di Ujung Tanduk

Erdogan Kehabisan Akal Karena Ekonomi Turki di Ujung Tanduk

Capital Economics dalam sebuah catatan melaporkan, “Kesepakatan IMF akan menjadi pilihan terakhir. Erdogan akan menghabiskan semua opsi lain sebelum mencari bailout”.

Ada kemungkinan yang dipilih oleh Erdogan. Harga minyak yang lebih rendah harus mengurangi inflasi, menurut Bank Eropa untuk Rekontruksi dan Pembangunan (ERBD), yang mengharapkan ekonomi rebound tahun depan.

Negara yang beribukota Ankara itu juga dapat memanfaatkan keinginan perusahaan-perusahaan Eropa untuk mempersingkat rantai pasokan agar mendapatkan pangsa pasar dan menarik investasi. Jika melihat data dari Worldmeters, Turki hingga kini menduduki posisi ke-9 dengan kasus terjangkit terbanyak secara global dengan jumlah 150.593 kasus. Dan angka kasus kematian mencapai 4.171 juga kasus sembuh berjumlah 111.577.

Erdogan bahkan baru-baru ini juga mengumumkan pencabutan atas aturan pembatasan sosial secara bertahap pada Mei dan Juni karena angka kematian akibat virus corona mengalami penuruan untuk kembali memacu ekonomi negara. Ekonomi negara ini telah menjadi perhatian sejak krisis mata uang di tahun 2018 lalu.

Turunnya nilai lira juga membuat khawatir sektor swasta Turki yang sudah mengontrak sejumlah besar utang dalam mata uang asing. Pemerintah berharap untuk pertumbuhan 5 persen pada tahun 2020, namun IMF memprediksi PDB sebaliknya akan berkontraksi sebesar 5 persen, serta naiknya jumlah angka pengangguran menjadi 17,2 persen di tahun ini.

Turki berharap untuk membangun jalur swap, yaitu mekanisme keamanan yang membantu menghindari kekurangan mata uang asing, dengan bank sentral asing, terutama Federal Reserve Amerika Serikat.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top