Crypto

Fenomena Crypto Winter di 2022 dan Nasib Kripto di 2023

Fenomena Crypto Winter di 2022 dan Nasib Kripto di 2023

Fenomena Crypto Winter di 2022 dan Nasib Kripto di 2023

Seperti yang diketahui, hingga menjelang akhir tahun 2022, pasar kripto disebut berada di fase crypto winter. Sehingga hal ini sangat berpengaruh terhadap naik turunnya harga kripto. Oscar Darmawan yang merupakan CEO Indodax menjelaskan mengenai hal ini.

Menurut Oscar, pelajaran yang dapat diambil olehnya terkait hal ini adalah setiap exchange perlu menjaga kepercayaan member. Dirinya melanjutkan, bahwa bisnis exchange sendiri hanya sebagai wadah untuk mempertemukan pembeli dan penjual. Dengan demikian, uang nasabah tidak boleh disentuh sama sekali. Exchange yang tidak menyentuh uang member akan menjadi exchange yang bertahan dan tidak akan mengalami kesulitan likuiditas.

Tidak hanya itu, mengenai market yang mengalami fase bearish di tahun 2022. Oscar berpendapat bahwa jika dilihat secara historikal, momen kripto sedang turun adalah masa masa yang tepat untuk mengakumulasikan kripto dan untuk dijual nantinya ketika harga naik.

Selain itu, Oscar juga mengajak para trader kripto untuk mulai mengakumulasi kripto dengan dollar cost averaging di masa sebelum halving. Sebagai waktu paling tepat untuk membeli kripto karena ada potensi kenaikan setelah halving Bitcoin yang akan terjadi di awal 2024.

Baca Juga: Bitcoin Halving: Pengertian dan Efek Terhadap Pasar Kripto

Apa itu Crypto Winter?

Dalam penjelasannya, istilah crypto winter adalah kondisi yang terjadi ketika nilai aset kripto mengalami penurunan drastis di bawah nilai tren bullish normal. Hal ini dapat dicontohkan misalnya pada bulan Juni tahun 2021 lalu. Dimana lima aset kripto terkemuka di dunia nyaris mengalami penurunan dalam waktu seminggu. Akibatnya, sejumlah trader berspekulasi bahwa akan terjadi musim dingin bagi aset kripto, alias crypto winter.

Saat itu, Bitcoin yang merupakan aset kripto tersohor dengan kapitalisasi pasar saat itu mencapai US$ 611 miliar, selama sepekan turun sebesar 7,5 persen. Ethereum juga nilainya merosot sebesar 14,5 persen. Kemudian, Binance Coin anjlok sebesar 14,6 dan Tether nilainya nyaris stagnan. Terakhir, Cardano (ADA) yang berada di urutan ketiga situs CoinMarketCap juga anjlok sebesar 6,4 persen.

Ketakutan para trader atau investor pada saat itu nampaknya tidak terbukti. Pasalnya, Bitcoin tidak mengalami penurunan hingga menyentuh nilai 20 ribu dolar AS sebagaimana yang dijelaskan oleh Peter Hank, analis di DailyFX.

Dikutip dari CNBC Indonesia, musim dingin bagi aset kripto dapat terjadi apabila nilainya masuk ke level US$ 20 ribu. Sementara berdasarkan grafik harga Bitcoin di situs CoinMarketCap, pada 30 Juni, nilai Bitcoin berada di nilai US$ 35 dolar AS.

Baca Juga: Benarkah Kejayaan Bitcoin Hanya Bertahan Hingga di 2024?

Kapitalisasi Pasar Kripto Turun Rp 23.230 T di 2022

Mengutip dari Bitcoin.com hari Selasa (27/12/2022), pada 20 Desember 2021. Nilai Bitcoin diperdagangkan seharga US$ 46.406 dan sudah kehilangan lebih dari 63 persen nilai tahun ini. Semetara itu, Ethereum sebagai aset kripto terkemuka kedua merosot 69 persen selama setahun terakhir. Adapun volume perdagangan global 24 jam juga jauh lebih besar, dengan perdagangan senilai US$ 118 miliar tercatat pada 20 Desember 2021.

Pada hari ini, volume perdagangan global telah dipotong setengahnya, karena ada sekitar US$ 48 miliar pertukaran yang tercatat pada 20 Desember 2022. Sebagai informasi, pada tahun lalu dan saat ini, sepuluh kapitalisasi pasar kripto teratas terlihat sangat berbeda.

Diberitakan sebelumnya, bear market dan gelombang kebangkrutan di industri aset kripto telah menghabiskan total uang senilai US$ 116 miliar. Angka itu sendiri berasal dari kantong para pendiri dan investor dalam sembilan bulan terakhir, demikian perkiraan terbaru Forbes.

Hal itu kemudian membuat sebanyak 10 nama dihapus dari daftar miliarder kripto. Adapun salah satu kerugian besar dikaitkan dengan CEO Binance Changpeng Zhao. Pada Maret 2022, sebanyak 70 persen sahamnya di bursa kripto bernilai US$ 65 miliar, tetapi sekarang bernilai US$ 4,5 miliar.

Sedangkan, CEO Coinbase Brian Armstrong punya kekayaan bersih yang diperkirakan mencapai US$ 1,5 miliar turun dari US$ 6 miliar pada Maret. Adapun kekayaan salah satu pendiri Ripple, Chris Larsen, berkurang dari US$ 4,3 miliar menjadi US$ 2,1 miliar.

Sementara itu, Cameron dan Tyler Winklevoss dari Gemini, bernilai USD 4 miliar pada Maret, tetapi saat ini masing-masing bernilai USD 1,1 miliar. Di antara mereka yang kehilangan status miliarder, yakni salah satu pendiri FTX Sam Bankman Fried dan Gary Wang. Yang kekayaannya pada Maret lalu masing-masing senilai US$ 24 miliar dan US$ 5,9 miliar, lalu menjadi US$ 0 pada Desember ini.

Menurut laporan Cointelegraph, bear market terhadap cryptocurrency tidak mungkin segera berakhir. Pasalnya krisis yang dialami FTX sudah menghalangi kepercayaan investor dan menciptakan krisis likuiditas di seluruh industri. Hal itu membuat penurunan pasar diperkirakan akan berlangsung hingga akhir 2023

William Adhiwangsa
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Perusahaan Kripto Huobi Terancam Bangkrut

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trading Saham di EXNESS
To Top