Saham

JPMorgan: Pasar Saham Bisa Rebound dengan Beberapa Syarat

Pasar saham Amerika Serikat (AS) terutama indeks acuan S&P 500 di New York Stock Exchange (NYSE) dan Bursa Nasdaq diprediksi oleh JPMorgan akan bisa kembali menembus rekor tertinggi pada awal tahun depan. Dengan catatan bahwa pemerintah AS bisa dengan cepat mengantisipasi dan menangani wabah virus corona dengan stimulus fiskal.

Dubravko Lakos-Bujas (Head of US Equity JPMorgan) menyampaikan dalam sebuah riset kepada klien, yang menyatakan bahwa pihaknya berharap level indeks S&P 500 mencapai 3.400 pada awal 2021.

Level ini akan menjadi yang tertinggi sepanjang masa, bahkan melampaui level sebelumnya yang berkisar pada 3.386 yang dicatatkan pada 19 Februari yang lalu. Prediksi level tersebut juga 47 persen lebih tinggi dari pergerakan rata-rata pada Jumat lalu ketika ditutup di angka level 2.304,92.

Pihak JPMorgan mencatat, bahwa indeks S&P 500 saat ini berada dalam masa bearish (menurun) sejak 12 Maret setelah sebelumnya sempat mengalami kenaikan yang tajam sebelum wabah virus corona meluas. Virus corona yang mewabah dan dinyatakan oleh WHO sebagai pandemi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi global semakin memburuk.

Pasar Saham Bisa Rebound dengan Beberapa Syarat

Pasar Saham Bisa Rebound dengan Beberapa Syarat

JPMorgan melihat ada peluang bagi pasar saham untuk kembali ke level rekor setelah gelombang aksi jual (net sell) tanpa henti di pasar saham belakangan ini. Menurutnya, pemerintah AS harus segera meloloskan paket fiskal komprehensif sebagai skenario untuk membalikan harga saham. Pihak Gedung Putih sendiri saat ini telah menyiapkan lebih US$ 1 triliun stimulus sebagai upaya untuk melunakkan dampak ekonomi dari akibat meluasnya covid-19.

Steven Mnuchin (Menteri Keuangan AS) mengatakan, subsidi langsung bagi anak-anak dan orang dewasa sebagai bagian dari paket stimulus akan dikirim oleh pemerintah. Total pembayaran ini mencapai angka sekitar US$ 500 miliar. Beberapa kelompok industri di AS, seperti sektor penerbangan, juga sedang mencari dana bantuan dari pemerintah.

Lakos Bujas juga mencatat, bahwa kegagalan melewati langkah-langkah tersebut kemungkinan akan menciptakan kapitulasi saham yang lebih luas termasuk bagi stok saham-saham heavyweight atau saham-saham utama.

Ia mengatakan, penyebaran wabah corona di AS masih akan tetap menjadi perhatian utama. Pada saat yang sama, ada tanda-tanda awal kemajuan soal obat antivirus corona yang akan dibuat, meskipun hasilnya masih belum pasti.

Pada Jumat (20/3/2020) yang lalu, tiga indeks acuan di bursa Wall Street AS (NYSE dan Nasdaq) melemah. S&P 500 minus 3,34 persen di level 2.304, sedang indeks Nasdaq turun 3,79 persen di level 6.879, dan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) minus 4,55 persen di level 19.173.

Benny Faizal
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top