Finansial

Harga Minyak Anjlok, Trader Ini Nyaris Bangkrut dan Sembunyikan Rugi Rp 12,4 T

Harga minyak mentah di pasar dunia terpuruk sepanjang 2020 ini, hingga membuat trader asal Singapura nyaris mengalami bangkrut. Pada perdagangan Senin (20/4/2020) kemarin waktu Amerika Serikat (AS), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat berada di level negatif US$ 14,08 per barel.

Kondisi harga minyak mentah dunia yang terendah dalam sejarah itu, membuat Hin Leong Trading Pte Ltd (HLT), pedagang minyak asal Singapura ketahuan telah menyembunyikan kerugian sekitar US$ 800 juta atau sekitar Rp 12,4 triliun (Kurs Rp 15.530).

Perusahaan perdagangan minyak HLT didirikan oleh Lim Oon Kuin. Warga negara Singapura berusia 77 tahun. Pria yang dikenal dengan sapaan OK Lim itu, berhasil membuat HLT dikenal sebagai salah satu trader minyak terbesar di Asia Tenggara. Dari laporan keuangan 2019 yang berakhir Oktober, HLT melaporkan raihan laba bersih sebesar US$ 78,2 juta. Tapi pada kenyataannya, perusahaan justru merugi senilai US$ 800 juta.

Mengutip dari Bloomberg, Hin Leong Trading Pte Ltd, adalah salah satu kekuatan terbesar dan paling rahasia di dunia perdagangan bahan bahar minyak. Lim Chee Meng, putra tunggal Lim Oon Kuin mengatakan, bahwa perusahaan ini juga menjual beberapa juta barel produk olahan yang telah digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman dari bank-bank.

Akibatnya, perusahaan ini menghadapi kekurangan yang signifikan antara stok minyak dipegang dan persediaan yang dijaminkan ke bank-banknya itu. Hal ini berpotensi kerugian besar bagi bank-bank yang memberikan pinjaman miliaran dollar kepada pedagang sebagai jaminan.

Harga Minyak Anjlok, Trader Ini Nyaris Bangkrut dan Sembunyikan Rugi Rp 12,4 T

Harga Minyak Anjlok, Trader Ini Nyaris Bangkrut dan Sembunyikan Rugi Rp 12,4 T

Putranya yang dikenal juga sebagai Evan Lim, mengatakan tidak mengetahui alasan kerugian selama beberapa tahun. Sementara itu ayahnya telah menginstruksikan departemen keuangan HLT untuk menghilangkannya dari laporan keuangannya.

Tapi dalam dokumen lain, disebutkan bahwa OK Lim menjual stok minyak perusahaan dan menggunakan hasil penjualan itu untuk operasional perusahaan. HLT juga menjaminkan stok minyak yang dibeli dari pasar berjangka untuk mendapat kredit bank.

Dikutip Reuters, dari dokumen di Pengadilan Tinggi Singapura, kerugian perusahaan tersebut sebesar itu terakumulasi selama beberapa tahun, namun tidak dilaporkan. Perusahaan ini berurusan dengan pengadilan untuk mengajukan persetujuan restrukturisasi utangnya di bank.

Perusahaan Hin Leong dan anak perusahaanya, Ocean Tankers Ltd, memiliki utang sebesar US$ 3,85 miiar dari 23 bank. Saat ini, perusahaan sedang berupaya untuk mendapatkan penundaan pembayaran utang tersebut, setidaknya dalam waktu selama enam bulan.

Bloomberg pertama kali melaporkan kesulitan keuangan HLT pada 10 April lalu setelah beberapa pemberi pinjaman menarik jalur kredit dari HLT, karena khawatir atas kemampuan HLT membiayai utangnya. Dengan anjloknya harga minyak dunia saat ini, perusahaan makin rugi besar. Tapi saat ini HLT tengah meminta perlindungan dari pengadilan Singapura, atas gugatan pailit dari krediturnya.

Lita Alisyahbana
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top