Crypto

Penambangan Kripto Picu Krisis Energi, Kazakhstan Terancam Gelap Gulita

Imbas dari aktivitas penambangan kripto yang terjadi di Kazakhstan, membuat negara tersebut kini mengalami krisis energi. Akibatnya, enam wilayah di negara itu mengalami pemadaman listrik sejak Oktober. Dari kabar yang terdengar, kejadian tersebut dipicu oleh kelebihan beban energi setelah penambang Bitcoin yang berdatangan dari China. Sejak Tiongkok melarang penambangan cryptocurrency, jumlah penambang yang berpindah ke Kazakhstan terus bertambah.

Melansir dari laporan Financial Times, operator jaringan listrik negara KEGOC akan mulai menjatah listrik untuk 50 penambang terdaftar setelah permintaan mereka dilaporkan menggunakan mode shutdown darurat di tiga pembangkit listrik pada Oktober. Mereka juga akan menjadi yang pertama terputus jika ada kegagalan jaringan. Hal ini diungkapkan oleh perusahaan kuasi-publik tersebut.

Dari sumber laporan yang sama, diketahui bahwa terdapat data yang memperkirakan lebih dari 87 ribu alat tambang kelas berat yang pindah dari China ke Kazakhstan, yang membuat negara tersebut menjadi pusat penambangan kripto terbesar kedua di dunia, di bawah Amerika Serikat. Selama Oktober lalu, setidaknya ada tiga pembangkit listrik batubara paling besar di Kazakhstan yang terpaksa dimatikan akibat permintaan listrik yang terlalu besar.

Penambangan Kripto Picu Krisis Energi, Kazakhstan Terancam Gelap Gulita

Penambangan Kripto Picu Krisis Energi, Kazakhstan Terancam Gelap Gulita

Coindesk melaporkan sehubungan dengan pemadaman, Kementerian Energi akan mulai membatasi penambangan baru yang menggunakan lebih dari 100 megawatt (MW) selama dua tahun. Namun tak lama kemudian, kebijakan itu dibatalkan. Yakni membatalkannya untuk penambang yang sah. Krisis listrik ini dikaitkan dengan penambang abu-abu atau dikenal sebagai penambang ilegal kripto. Para ahli menyebutkan para penambang tersebut mengkonsumsi hingga 1.200 megawatt pada jaringan listrik negara.

Pejabat dan pengamat telah menyematkan pemadaman listrik pada peningkatan jumlah penambang kripto yang tidak terdaftar yang secara ilegal menghasilkan mata uang dari rumah atau bahkan pabrik mereka. Listrik relatif murah di Kazakhstan, menjadikannya surga bagi perusahaan yang berharap mendapat untung lebih besar dari operasi kripto.

Diberitakan sebelumnya, mengutip dari BBC International hari Kamis (11/2/2021) lalu, dilaporkan bahwa berdasarkan hasil riset Universitas Cambridge, Inggris, konsumsi listrik Bitcoin dalam setahun lebih tinggi dari seluruh Argentina. Tambahan informasi, untuk menghasilkan Bitcoin dilakukan aksi mining atau penambangan dengan melibatkan komputer khusus dan nyatanya kegiatan itu membutuhkan konsumsi daya listrik yang besar. Tak jarang komputer harus bekerja 24 jam selama tujuh hari.

Dari penelitian tersebut, konsumsi listrik untuk menambang Bitcoin mencapai 121,36 terawatt-hour (TWh) setahun. Konsumsi stabil setiap tahunnya kecuali ketika harga Bitcoin turun yang buat penambang rugi melakukan aksi mining. Peneliti Cambridge Center for Alternative Finance, Michael Rauchs mengatakan, “Bitcoin mengkonsumsi listrik sebanyak itu. Ini tidaklah sesuatu yang akan berubah di masa depan kecuali harga Bitcoin turun secara signifikan”. Rauchs juga menambahkan bahwa konsumsi listrik Bitcoin bisa memberikan daya pada semua ceret yang digunakan di Inggris selama 27 tahun.

William Adhiwangsa
Latest posts by William Adhiwangsa (see all)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Advertisement
To Top